Airbus Military and PT Dirgantara
View the Original article
Indonesian and World Defence Defense Military Technology News and Informations
no-reply@blogger on Thursday, November 8, 2012
no-reply@blogger on Saturday, October 6, 2012
no-reply@blogger on Wednesday, September 19, 2012
no-reply@blogger on Thursday, April 5, 2012
31 Maret 2012
Rancangan kokpit N219 (image : PT DI)BANDUNG--MICOM: PT Dirgantara Indonesia (Persero) sedang mempersiapkan pembangunan pusat keunggulan pertahanan dan dirgantara bekerja sama dengan mitra-mitra dalam dan luar negeri.
Kedua penandatangan lainnya, Presiden Dasault Systemes, Forestier, dan Managing Director NSI, Reinhard Sitorus. Kerja sama Kemitraan Kreasi jangka panjang bertujuan membangun pusat unggulan di bidang pertahanan dan dirgantara.
Dirut PTDI Rakhendi mengatakan bahwa kerja sama ini sungguh membuat PTDI semakin bernilai di mata internasional, dan ini akan berdampak besar bagi kelancaran rancang bangun dan produksi N219, pesawat tempur KFX/IFX, dan program-program lainnya.
Apa yang disepakati ketiga perusahaan bukanlah terjadi tiba-tiba. Ketiga pihak sudah saling mengetahui dan memahami kemampuan masing-masing, baik dari sisi sumber daya manusia, khususnya para insinyur (engineers) yang dimiliki, pengalaman, maupun fasilitas masing-masing.
Dalam kerja sama ini PTDI berkomitmen untuk menyiapkan insinyur, tempat kerja, jaringan kerja, dan proses bisnis untuk pengembangan dan sertifikasi. NSI yang sarat dengan pengalaman dan memiliki insinyur yang berkualitas dan mampu menyiapkan perangkat lunak dan pelayanan.
NSI berkomitmen untuk mendukung pusat rancang bangun, mengembangkan kemampuan staf serta membangun pusat pertahanan dan dirgantara bersama.
Ia menjelaskan bahwa DS sebagai perusahaan terkemuka di Prancis merupakan inovator yang menginovasi para perancang (designer), insinyur, manajer marketing. Perusahaan ini berkomitmen menyiapkan solusi tingkat dunia serta mendukung kerja sama pusat pertahanan dan luar angkasa secara langsung. (Ant/OL-9)
no-reply@blogger on Saturday, January 14, 2012
12 Januari 2012
Pesawat N-219 yang akan dibuat oleh PT. Dirgantara Indonesia (image : ippien)
Jurnas.com | PT Dirgantara Indonesia akan memproduksi sebanyak 15 unit pesawat jenis N-219 yang akan digunakan untuk penerbangan perintis di Provinsi Papua.
"Pengembangan N-219 sudah mulai dilakukan yang prototipenya ditargetkan rampung pada 2014," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana di Bandung, Kamis (12/1).
Menurut Andi, biaya produksi satu unit pesawat berkapasitas 19 penumpang ini mencapai sekitar 4 juta dolar AS.
"Untuk itu dibutuhkan dana sekitar 60 juta dolar AS atau sekitar Rp540 miliar untuk menyelesaikan seluruh proyek tersebut," katanya.
Ia menjelaskan pihaknya sudah menyampaikan proposal kepada pemerintah untuk mendapat pembiayaan dari APBN. "Pengembangan pesawat N-219 tersebut mendapat dukungan penuh pemerintah seperti Kementerian Ristek, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan," katanya.
Menurutnya pesawat jenis N-219 merupakan tipe pesawat yang sangat cocok dan handal untuk wilayah perintis seperti Papua dan sekitarnya.
Pasalnya, dari 310 bandara di seluruh wilayah Papua sebanyak 90 persen di antaranya memiliki landasan pacu kurang dari 800 meter.
"Landasan pacu di wilayah Papua umumnya berukuran pendek, bahkan ada yang hanya 400 meter. Tentu dibutuhkan pesawat yang cocok untuk digunakan di wilayah itu," tegasnya.
Selain pembiayaan dari pemerintah, juga akan diupayakan diperoleh dari perusahaan yang akan mengoperasikan pesawat komersial tersebut.
no-reply@blogger on Sunday, November 27, 2011

Konsep yang diajukan Boeing untuk KFX (image : Boeing)
JAKARTA--MICOM: Dalam joint production Indonesia-Korea untuk Korean Fighter Xperiment / Indonesia Fighter Xperiment (KF-X / IF-X) Indonesia hanya akan menyumbang 15% bila tidak mengembangkan kemampuan hidrolik dan komponen lainnya.
"Indonesia hanya akan menyumbang bagian airframe," ujar Dita Ardonni Jafri, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (1/11).Senyatanya PT DI membutuhkan banyak proyek membuat pesawat terbang untuk menjaga keberlangsungan perusahaan dan regenerasi.
"Kalau dalam jangka waktu dua tahun mendatang tak ada proyek pembuatan pesawat, PT DI akan kehilangan kemampuan dalam membuat rancang bangun pesawat," Imbuhnya.
Dalam proyek ini, PT DI menjadi bagian terbesar dalam tim perancang yang dikirim Kementerian Pertahanan ke Korea Selatan pada 17 Juli lalu.
Proyek KFX menelan biaya sebesar US$8 miliar. Indonesia harus berkontribusi sebesar 20 persen dari total proyek atau sebesar US$1,6 miliar.
Keuntungannya, Indonesia mendapatkan sebanyak 50 pesawat KFX dari total 250 unit. (*/OL-5)