Showing posts with label Hercules. Show all posts
Showing posts with label Hercules. Show all posts

Australia and Indonesia Sign Memorandum of Sale for Five C-130H Hercules

on Friday, July 26, 2013

26 Juli 2013

RAAF C-130 Hercules (photo : thebaseleg)

Today in Perth, Indonesian Defence Minister Purnomo and I witnessed the signing of a Memorandum of Sale between Australia and Indonesia for five C 130H aircraft and associated equipment.

During my visit to Jakarta in April this year, I confirmed that the Australian Government was willing to sell five C-130H aircraft, along with a simulator and spare parts, to Indonesia at a discounted rate.

This offer was in addition to the four C-130H aircraft that Australia is currently in the process of transferring to Indonesia following discussions between our respective leaders in November 2011.

The sale of a further five C-130H transport aircraft will further enhance Indonesia’s capacity to respond to natural disasters and humanitarian crisis.

The Memorandum of Sale was signed by Australia’s Chief of the Defence Force, General Hurley, and Indonesia’s Head of Defence Facilities Agency, Rear Admiral Lubis.

The Memorandum sets out the arrangements for the sale of the five aircraft, simulator and spare parts to Indonesia.

Australia is pleased to continue to assist the development of Indonesia’s airlift capability, which will support humanitarian assistance and disaster relief operations.

The sale of these additional aircraft and associated equipment reflects the strength of the bilateral relationship between Australia and Indonesia, and the close ties between the Australian and Indonesian Defence forces.

(Aus DoD)

View the Original article

RI Beli 5 Unit Hercules dari Australia dengan Harga Murah

on Friday, July 19, 2013

19 Juli 2013

C-130H Angkatan Udara Australia (photo : Bisnis Jabar)

RI Beli 5 Unit Hercules dari Australia

JAKARTA — Pemerintah RI melalui Kementerian Pertahanan akan membeli lima unit Pesawat Hercules dari Australia untuk memperkuat sistem pertahanan udara.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menuturkan pemerintah akan membeli lima unit Hercules dengan harga murah. Hanya saja, Purnomo tidak menyebutkan harga yang disepakati oleh kedua pihak.

Selain membeli lima unit pesawat, Pemerintah RI juga akan mendapatkan empat unit pesawat Hercules berupa hibah dari negara pimpinan Perdana Menteri Kevin Rudd itu.

“Besok kami akan bertemu dengan Qantas Defence service untuk membicarakan 4 pesawat yang hibah. Selain itu, kami juga beli 5 pesawat. Harga 5 pesawar itu murah sekali,” ujar Purnomo usai menghadiri acara Buka Bersama antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Keluarga Besar Polri di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (18/7/2013).

Purnomo optimistis dengan kerjasama ini. Dia menyebutkan kualitas pesawat Hercules tersebut cukup baik. Di sisi lain, ujarnya, Indonesia memiliki banyak suku cadang untuk jenis pesawat Hercules.

“Serinya [seri pesawat yang hhibah maupun yang dibeli] H. Kalau di-upgrade bisa buat 15 tahun,” katanya. 

(Bisnis Jabar)

View the Original article

TNI AU Akan Beli Enam Hercules di Tahun 2013

on Wednesday, December 26, 2012

25 Desember 2012

Pesawat C-130H Hercules Angkatan Udara Australia yang saat ini telah dipensiunkan (photo : XAirforces)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mabes TNI terus mempercepat modernisasi alutsista matra udara. Setelah mendapat hibah empat unit pesawat Hercules C-130 dari Negeri Kanguru.

Rencananya tahun depan TNI AU bakal kedatangan enam pesawat Hercules jenis yang sama. “Pesawat Hercules sama didatangkan dari Australia,” kata Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono usai pelantikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia di Lanud Halim Perdanakusuma, akhir peka lalu.

Agus menjelaskan modernisasi alutsita TNI AU merupakan program mendesak yang harus dipenuhi. Selain mendatangkan jet tempur Sukhoi dan F-16 sebagai program lanjutan memperkuat pertahanan udara, TNI AU juga bakal kedatangan pesawat angkut CN-295 sebagai pengganti Fokker-27. “Ini sebagai tindak lanjut program memperbarui alutsista TNI AU,” katanya.

KSAU Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia menyebut, peremajaan alutsista merupakan salah satu kebijakan khusus yang bakal diprioritaskannya. Mendatangkan pesawat angkut dan jet tempur adalah program lanjutan untuk bisa memenuhi minimum essential forces (kekuatan pokok minimum) alutsitas TNI AU pada 2014.

Pada tahun ini, TNI AU mendapat dana terbesar untuk pembelian alutsista mencapai 2,6 miliar dolar AS. Adapun TNI AL mendapat alokasi dana sebesar 2,1 miliar dolar AS, dan TNI AD paling kecil sebanyak 1,4 miliar dolar AS.

“Saya akan mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki dan mempelajari lagi tentang alutsitas,” kata Ida Bagus.

“Saya," lanjut Ida Bagus, "harus konsolidasi dan memperbaiki manajemen untuk melanjutkan program pejabat sebelumnya.”

Dalam pembukaan Rapat Kerja Teknis Logistik Modernisasi, pada awal bulan lalu, mantan KSAU Marsekal Imam Sufaat menyatakan, sesuai rencana strategis pembangunan 2010-2014, TNI AU membutuhkan sekitar 102 pesawat berbagai jenis.

Rinciannya terdiri atas pesawat tempur F-16, T-50, Sukhoi, Super Tucano, pesawat angkut CN-295, Hercules, Boeing 737-500, Helikopter Cougar, Grob, dan pesawat latih KT-1.



View the Original article

Hercules A1303 Diserahkan kepada ARINC untuk Diretrofit

on Friday, November 30, 2012

30 November 2012

Pesawat Hercules TNI AU A1303  (photo : VectorKalkulus).

Kemhan RISerahkan Pesawat C-130 Hercules kepada ARINC LLC USA

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menyerahkan pesawat C-130H A-1303 Hercules kepada ARINC, LLC USA, untuk pelaksanaan Retrofit bertempat di Hangar Satuan Pemeliharaan 15 Depohar 10 Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Kamis (29/11).

Pada penyerahan pesawat Kemhan RI diwakili oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Ka Baranahan) Mayor Jendral TNI Ediwan Prabowo. Dalam sambutannya Ka Baranahan menyampaikan bahwa Kemhan RI telah menandatangani kontrak dengan ARINC pada tanggal 8 Desember 2008 untuk melaksanakan retrofit 5 pesawat C-130H milik TNI Angkatan Udara. Kemhan yakin bahwa ARINC akan dapat menyelesaikan kontrak tepat waktu.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk menandai keberhasilan pelaksanaan tugas, kesempatan ini sebagai wujud rasa syukur kehadirat yang Kuasa dimana sampai saat ini Tentara Nasional Indonesia telah mampu dan berhasil melaksanakan tugasnya dalam Operasi Militer Perang maupun Operasi Militer Selain Perang. Demikian pula telah tercatat dalam sejarah Indonesia bahwa TNI telah banyak berkiprah dalam menjaga kedaulatan RI serta pelaksanaan operasi penanggulangan bencana. Oleh karena itu kehadiran pesawat C-130 Hercules yang lebih modern setelah dilaksanakan retrofit diharapkan mampu menghadapi tantangan yang lebih kompleks dimasa yang akan datang.

Penyerahan pesawat ditandai dengan penandatanganan berita acara penyerahan pesawat oleh Ka Baranahan dan Mr. Larry D. Lamb dari ARINC, LCC USA. Penandatanganan disaksikan oleh Komandan Koharmatau Marsda TNI Sumarno, Kadisaeroau Marsma TNI Hasan Londang dan Kadiskomlekau Marsma M Yunus.



View the Original article

Proses Pembelian 6 Hercules dari Australia Belum Dimulai

on Thursday, September 6, 2012

05 September 2012

Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR (photo : Aus DoD)

Jurnas.com | WAKIL Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsuddin, mengatakan, rencana pembelian enam Hercules dari Australia harus melewati proses, baik proses administrasi, proses politik maupun proses pembelian. “Ketiga-tiganya itu belum implementasi,” kata Sjafrie Sjamsuddin di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (5/9).

Untuk mengimplementasikan rencana pembelian itu, menurut Sjafrie, Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR. Kemhan juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan soal alokasi anggarannya. “Setelah itu baru semuanya bisa jalan ke proses pembelian,” katanya.

Proses pembelian yang disepakati, kata Sjafrie, adalah Army Military Self Office (AMSO), satu bentuk baru Departemen Pertahanan Australia, sama dengan proses Foreign Miliatry Sales (FMS) di Amerika Serikat. “Jadi itu bentuk linearnya adalah proses government to Government,” katanya.

Menurutnya, seandainya proses administrasi, proses politik dan proses anggaran bisa dilakukan maka pembeliannya melalui AMSO.

Sjafrie juga menjamin, proses pembelian alutsista berjalan secara transparan dan akuntabel. Karena proses pengadaan harus terlebih dahulu mendapatkan supervisi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan dikonsultasikan dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Biasanya pembelian selalu berpikir prevention. Artinya, prosesnya bisa dilakukan atau tidak. Jika tidak, apa yang mesti diperhatikan,” katanya.

Sjafrie mencontohkan, pembelian Main Battle Tank seperti Tank Leopard dari Jerman, semuanya masuk di boks akuntabilitas terlebih dahulu, baru dilakukan pembelian. “Jadi kalau ada pengamat yang mengkritik, itu bagian dari upaya bagaimana meningkatkan ketelitian dalam proses pembelian,” katanya.



View the Original article

Indonesia Set to Procure 6 More Hercules from Australia

on Friday, August 10, 2012

10 Agustus 2012
  
RAAF C-130H Hercules (photo : photorecon)

RI set to procure 6 more heavy transport planes from Australia

Australia and Indonesia have almost reached a deal to procure six more refurbished Lockheed Martin C-130H Hercules heavy transport aircraft from the Royal Australian Air Force (RAAF), a defense official has confirmed.

So far, Australia and Indonesia have agreed on the the donation of four aircraft from RAAF to the Indonesian Air Force.

Defense Ministry chief spokesman Brig. Gen. Hartind Asrin said on Thursday talks between officials of the two countries had been underway for weeks and that a deal to procure the six additional aircraft was almost on the table.

“This would be actually a good deal for us. The price is good,” Hartind told The Jakarta Post. “After being overhauled, the planes will be just like new, with their mileage reset to zero.”

Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro and his Australian counterpart Stephen Smith signed agreements on defense cooperation in Darwin , Australia , in July, which included a grant of four refurbished C-130Hs.

The six C-130Hs, refurbished in a similar manner to the four donated aircraft, would cost about US$15 million each, for which the financing would come from the 2013 State Budget, Hartind said.

Australia decided to decommission the C-130H model as the RAAF is currently operating 12 C-130J Super Hercules, latest variant of Hercules. The RAAF has also ordered its sixth much larger Boeing C-17 Globemaster III strategic airlift aircraft and 10 units of the smaller Alenia C-27J Spartan tactical airlift aircraft.

Hartind said the delivery of the four Hercules aircraft would be made as soon as inspections were completed and approval had been acquired from both the Defense Minister and the House of Representatives.

“A team of our officials who checked the conditions of the four Hercules aircraft has just returned home. They are now working on a final report to be presented to the minister,” Hartind said. (nvn)



View the Original article

Pesawat Hercules Hibah Masih Dapat Dipakai Selama 20 Tahun

on Tuesday, July 10, 2012

09 Februari 2012

Pesawat Hercules C-130H Australia telah digantikan oleh seri terbaru yaitu C-130J, oleh Lockheed Martin seri C-130J ini sekarang dibanderol seharga 70 juta USD sebuahnya (photo : sirsteve)

Alasan RI terima hibah Hercules bekas dari Australia

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan, empat pesawat hibah yang didapat Indonesia dari Australia merupakan pesawat yang layak terbang. Tidak hanya itu, beberapa pertimbangan sebelum menerima pesawat tersebut juga sudah dilakukan, salah satunya jam terbang.

"Ini pesawatnya kalau dilihat dari jam terbangnya itu masih bisa terbang sekitar lima belas sampai dua puluh tahun, yang pesawat hibah. Justru itu salah satu pertimbangan waktu kami ambil, kami tidak sembarangan ambil," kata Purnomo kepada wartawan saat ditemui di kantor Kemenpolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jumat (6/7).

Purnomo mengatakan, bahkan sebelum memutuskan untuk diambil, beberapa kondisi kelayakan terbang pesawat tersebut juga diperhatikan, walaupun tetap akan dilakukan pembaruan.

"Waktu kami mau ambil itu kami juga lihat, satu, kondisi untuk layak terbangnya sampai berapa lama, terus avionik, lalu kondisi strukturnya. Tetapi sekarang tidak hanya itu, sekarang kan mau kami up grade, karena itu kami kirim tim inspeksi," jelas dia.

Purnomo mengatakan, nantinya untuk alokasi pembiayaan tersebut memang belum bisa diputuskan. Sebab, tim inspeksi yang dikirim ke Australia belum kembali ke Indonesia.

"Iya mereka setelah melakukan inspeksi, mereka juga akan menghitung total kebutuhannya berapa. Kemudian mereka akan memaparkan di tim teknis angkatan udara. Mungkin kalau dari tim teknisnya mengatakan ini perlu, namun dari tim manajemennya sudah cukup dan sebagainya baru dilaporkan ke kami," imbuhnya.

Oleh karena itu, saat ini Menhan juga belum bisa mengisarkan berapa jumlah anggaran yang akan diperlukan untuk melakukan perbaikan pesawat tersebut.

"Belum tahu, bisa besar bisa lebih kecil . Tergantung tim inspeksi yang sekarang ini berada di Australia. Jadi yang paling bagus kami tunggu sampai nanti tim inspeksi pulang, melaporkan ke kami berapa sebetulnya biaya yang diperlukan untuk melakukan perbaikan supaya dia serviceable dari empat pesawat itu," tambahnya.

Saat ditanya mengapa Indonesia tidak membeli pesawat Hercules baru. Purnomo beralasan, pesawat Hercules baru sangat mahal.

"Mengambil pesawat Hercules yang baru itu sekarang mahal sekali. Lalu Hercules seri H sekarang sudah tidak ada lagi, dan Amerika sekarang memproduksi seri J, dan itu harganya mahal sekali, itu bisa empat kali lipat, mahal sekali, karena dia bisa terbang tinggi lalu avionik sudah berubah," terangnya.



View the Original article

Indonesia-Australia Tandatangani MoU Hibah Empat Pesawat Hercules

on Tuesday, July 3, 2012

02 Juli 2012

Pesawat C-130H Hercules RAAF (photo : sirsteve)

Darwin (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Australia menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) hibah empat pesawat Hercules tipe C-130 H dari Australia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Haryanto dan Panglima Angkatan Bersenjata Australia David Hurley menandatangani MoU tentang hibah pesawat tersebut di RAAF Darwin, Australia, Senin.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan koleganya, Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith, menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman hibah yang dilakukan di depan pesawat Hercules yang akan dihibahkan itu.

Dalam sambutannya, Smith mengatakan Australia sudah mendapat persetujuan Amerika Serikat (AS), sebagai produsen pesawat Hercules, untuk menghibahkan ke Indonesia. Ia menambahkan pemberian hibah produk-produk militer asal AS harus seizin negara tersebut.

Menteri Purnomo Yusgiantoro mengatakan hibah pesawat Hercules itu dibutuhkan Indonesia, terutama untuk mendukung operasi-operasi militer bukan perang seperti penanganan bencana.

"Atas nama pemerintah, saya sangat mengapresiasi hal ini," katanya.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, empat pesawat hibah tersebut tidak bisa langsung dibawa pulang karena akan direnovasi terlebih dulu.

Perbaikan, termasuk pengecatan dan penggantian suku cadang, untuk pesawat yang dihibahkan membutuhkan dana sekitar 50 juta dolar Australia.



View the Original article

Indonesia-Australia Bahas Finalisasi Hibah 5 Hercules

on Monday, July 2, 2012

02 Juli 2012

 Pesawat C-130H RAAF (photo : sirsteve)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Australia akan membahas finalisasi hibah lima pesawat Hercules C-130 dari Australia, termasuk biaya yang harus dikeluarkan pemerintah terkait proses tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pembahasan final mengenai hibah pesawat itu akan menjadi salah satu agenda kunjungan Presiden ke Darwin tanggal 2-4 Juli 2012.

"Sore ini ada kegiatan pertemuan Menteri Pertahanan RI dengan Menteri Pertahanan Australia. Rencananya ada lima C-130 dari Australia dengan format hibah dengan ada biaya yang dikeluarkan dari Indonesia," kata Presiden saat memberikan keterangan pers di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta di Jakarta, Senin.

Menurut Kepala Negara, Indonesia membutuhkan pesawat transport tersebut karena setelah kecelakaan pesawat Fokker milik TNI AU beberapa pekan lalu, pesawat sejenis yang dimiliki TNI AU belum bisa dioperasikan sampai penyelidikan selesai.

Dia menjelaskan pula bahwa meski pesawat CN 295 pengganti Fokker 27 milik TNI AU sedang disiapkan dan memiliki kapasitas yang lebih besar namun TNI AU akan tetap kembali mengembangkan armada C-130 yang pernah dimiliki dengan sejumlah pembaruan.



View the Original article

Hercules Kembali dari AS Setelah Jalani Overhaul

on Saturday, February 25, 2012

24 Februari 2012


Pesawat Hercules A-1323 (photo : Kaksus Militer)

Jurnas.com PESAWAT tempur Hercules milik TNI AU kembali ke Indonesia setelah menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul) di Amerika Serikat. Serah terima pesawat ini akan dilakukan di base ops Halim Perdanakusuma.

“Siang ini akan dilakukan upacara penyambutan,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus saat dihubungi, Jumat (24/2). Menurut Azman, Hercules yang mengalami overhaul atas bantuan Amerika ini dilakukan sejak setahun lalu.

Selain perbaikan, mulai body, structure hingga persenjataan, pesawat ini juga di-up grade kemampuannya. “Serah terima dilakukan oleh dubes Amerika di Indonesia dengan Wakil KSAU,” ujar Azman. Pesawat ini diperbaiki di Oklahoma Amerika Serikat untuk menjalani pemeliharaan berat dalam Programmed Depot Maintenance di hanggar perusahaan swasta ARINC, di Oklahoma, Amerika Serikat.

Jika pesawat tersebut selesai diperbaiki, direncanakan dua unit Hercules lainnya akan juga diperbaiki. Menurut Azman, teknisi TNI AU sebenarnya punya kemampuan memperbaiki pesawat tersebut. Namun, kemampuan tidak didukung fasilitas dan peralatan pendukung.

"Alat-alat yang dibutuhkan tidak ada. Kalau beli (alat-alatnya), lebih jauh dan lebih mahal, lebih baik kita gunakan orang lain," katanya.




View the Original article

Qantas Defence Ditunjuk untuk Memperbaiki Hercules Hibah untuk TNI AU

on Thursday, January 12, 2012

10 Januari 2012

Perbaikan pesawat C-130H RAAF di Qantas Defence (photo : Qantas Defence)

Jurnas.com MESKIPUN tim teknis baru berangkat Februari mendatang, pesawat angkut Hercules yang dihibahkan pemerintah Australia dipastikan mendapat peremajaan di negeri Kanguru. Perbaikan dilakukan di bengkel milik maskapai Qantas.

Kini tengah dikalkulasi berapa biaya yang dbutuhkan untuk melakukan perbaikan dan membawa pesawat ke Indonesia. "Nominalnya baru diketahui setelah mendapat laporan dari tim teknis yang meninjau pesawat secara langsung ke Australia," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Selasa (10/1).

Kontrak kerja sama hibah empat unit pesawat itu juga akan ditandatangani setelah tim teknis melaporkan temuannya. Namun begitu, pemerintah Indonesia dan Australia telah melakukan komunikasi terkait hibah ini. "Amerika sebagai produsen Hercules saat ini juga telah menyetujui rencana hibah dari Australia ke Indonesia. AS dalam hal ini Presiden Barack Obama, memiliki kebijakan, alutsista buatan AS harus mendapatkan persetujuan negeri Paman Sam itu sebelum dihibahkan ke negara lain," katanya.

(Jurnal Nasional)



View the Original article

Hercules Hibah Australia Diremajakan

on Saturday, January 7, 2012

06 Januari 2012

C-130H Hercules Angkatan Udara Australia (photo : FlightCrew)

Jakarta (ANTARA News) - "Pemerintah akan merenovasi dan meremajakan atau retrofit empat pesawat C-130 Hercules hibah dari Australia," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

"Biasanya kalau dapat hibah, atau dapat pesawat, selalu kami cek, renovate, retrofit, kami betul yakinkan bahwa pesawat itu layak terbang," kata Purnomo ketika ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.

"Sekitar ratusan miliar untuk empat pesawat terbang itu. Saya tak tahu persis karena belum diajukan oleh tim," katanya menyinggung perkiraan biaya peremajaan pesawat terbang transpor militer itu.

Menurut dia, tim dari kedua negara akan bertemu untuk membahas kondisi pesawat dan teknis hibah. Hasil pembicaraan tim itu bisa digunakan untuk mengukur biaya retrofit dan kemampuan keempat pesawat itu setelah diremajakan.

Yusgiantoro menjelaskan, pesawat hibah itu berjenis H, atau masuk dalam kategori pesawat baru. Hibah itu juga telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.

"Karena setiap alutsista buatan Amerika Serikat, di mana pun juga, jika mau dihibahkan walau yang mau menghibahkan negara lain, harus melapor dulu pada Amerika Serikat," katanya.

Australia positif menghibahkan empat unit pesawat Hercules untuk Indonesia setelah sempat tertunda prosesnya pada 2011.

"Kemungkinan kedua tim teknis dari masing-masing negara akan bertemu pada pertengahan Januari ini," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Hartind Asrin, di Jakarta, Selasa (3/1).

Asrin mengatakan, dalam pertemuan itu kedua tim akan membicarakan teknis hibah yang akan dilakukan setelah sempat tertunda pada 2011. Selain mengadakan pertemuan di Jakarta, akan dilakukan pula pertemuan di Australia untuk melihat langsung empat unit Hercules yang akan dihibahkan tersebut, katanya.

Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo, mengatakan pesawat Hercules yang diperlukan TNI-AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI-AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalion sebanyak 26 unit," kata Suprasodjo.

Dia menambahkan, pesawat tipe H yang akan dihibahkan Australia akan digunakan TNI-AU untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua. Selain Angkatan Udara Amerika Serikat, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerima C-130 dari pabriknya. (F008)

(Antara)



View the Original article

Australia Jadi Hibahkan Empat Hercules Untuk RI

on Tuesday, January 3, 2012

03 Januari 2012



TNI AU direncanakan memiliki 30 pesawat C-130 Hercules dan saat ini sudah dimiliki 21 pesawat. Dengan adanya hibah 4 pesawat dari Australia berarti masih ada 5 pesawat lagi yang harus dibeli (photo : Aus DoD)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Australia positif menghibahkan empat unit pesawat C-130 Hercules untuk Indonesia setelah sempat tertunda prosesnya pada 2011.

"Kemungkinan kedua tim teknis dari masing-masing negara akan bertemu pada pertengahan Januari ini," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Hartind Asrin ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Hartind Asrin mengatakan, dalam pertemuan itu kedua tim akan membicarakan teknis hibah yang akan dilakukan setelah sempat tertunda pada 2011.

Selain mengadakan pertemuan di Jakarta, akan dilakukan pula pertemuan di Australia untuk melihat langsung empat unit pesawat Hercules yang akan dihibahkan tersebut, lanjut Hartind.

Kepastian hibah empat unit pesawat Hercules dari Australia itu telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat sebagai produsen pesawat angkut berat Hercules.

"Namun teknisnya harus dibicarakan lebih lanjut antartim kedua negara. Dan itu akan segera dilakukan mulai pertengahan Januari ini," kata Hartind.

Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo mengatakan pesawat Hercules yang dibutuhkan TNI AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalyon sebanyak 26 unit," kata Marsekal Muda Rodi.

Rodi menambahkan,"Tipe yang akan dihibahkan adalah tipe H, diremajakan kembali, dan akan digunakan TNI Angkatan Udara untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua,".(R018)

(Antara)



View the Original article