Showing posts with label Hibah. Show all posts
Showing posts with label Hibah. Show all posts

Hibah F-5 Korea Selatan Ditolak TNI AU

on Friday, May 17, 2013

16 Mei 2013


Korea Selatan berniat menghibahkan satu skadron pesawat F-5 Tiger atas pembelian 16 pesawat latih T-50 Goldean Eagle (photo : daum)


Jakarta (ANTARA News) - Itikad Korea Selatan menghibahkan F-5 Tiger ditolak TNI AU. Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI IB Putu Dunia, menyatakan penolakan lantaran tidak sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Tidak disebutkan apakah Korea Selatan telah mendapat pengganti armada F-5-nya.

"Karena spesifikasi pesawat F-5 Korea Selatan berbeda dengan yang dimiliki Indonesia," kata Dunia, usai menghadiri penutupan Sidang Umum dan Kongres Dewan Olahraga Militer Internasional atau Conseil International du Sport Militaire (CISM) Ke-68, di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pesawat F-5 --tipe F-5E Tiger II-- milik Indonesia sudah banyak dimodifikasi, baik persenjataan atau avioniknya. Sedangkan, pesawat yang ditawarkan Korea Selatan minim modifikasi. Untuk mengaktualkan kemampuannya, TNI AU meluncurkan program MACAN pada masa lalu, yang juga melibatkan penyedia avionika Belgia dan Sagem, Prancis.

"Perbedaan spesifikasi ini justru menjadi beban di biaya perawatannya. Kalau bisa kami diberi pesawat yang sama dengan yang kami punya," katanya. Dunia menyatakan telah melaporkan penolakan itu kepada Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro.

Beberapa bulan lalu, Korea Selatan secara sepihak menunda peluncuran Program KFX/IFX --satu proyek ambisius lompatan besar sekaligus jalan pintas perancangan dan pembuatan pesawat tempur generasi 5+ antara negara itu dan Indonesia-- justru pada saat tahap penilaian awal telah selesai ditempuh.

Padahal tahap penilaian awal itu menyatakan Program KFX/IFX ini sangat layak diteruskan, baik dari sisi rancang bangun, teknologi, biaya, kemampuan lain, hingga kemauan politik kedua negara. Skema pembiayaan dari kedua negara juga telah disepakati, untuk proyek yang diingini semula digelindingkan mulai 2015.

Korea Selatan juga diketahui sejak awal sangat mengidamkan boleh membeli F-22 Raptor, mengingat temperatur keamanan regionalnya cukup tinggi belakangan ini terkait agresivitas dan sensitivitas tetangganya, Korea Utara. Akan tetapi, Amerika Serikat lebih berselera menjual Raptor itu kepada Jepang.

Sejalan dengan penolakan Amerika Serikat itu, Korea Selatan lalu meluncurkan Program KFX; belakangan mengajak Indonesia mengingat Indonesia mulai memalingkan wajahnya kepada Korea Selatan sebagai sumber persenjataan. KT-1B Wong Bee dari Korea Seatan dan perbaikan menyeluruh KRI Nanggala-402 di negara itu.

Belakangan, ada sinyal dari Amerika Serikat bahwa Korea Selatan mulai dilirik untuk boleh memiliki Raptor. Latihan perang rutinFoal Eagle 2013 bahkan melibatkan B-2 Spirit dan satu flotila gugus tempur kapal induk USS Nimitz (CVN-68) ke Korea Selatan. Ini terbilang pelibatan sangat besar dalam latihan Foal Eagle selama ini.

(Antara)


View the Original article

8 Pesawat F-16 Hibah Akan Datang Tahun 2014

on Tuesday, January 15, 2013

14 Januari 2013


Batch pertama F-16 hibah yang terdiri dari 8 pesawat akan datang tahun 2014 (photo : Luke AFB)

Indonesia akan menerima 8 pesawat F-16 C/D  hibah yang telah diregenerasi dari Amerika Serikat mulai tahun 2014. Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, mengemukakan hal tersebut pada  wawancara dengan sejumlah wartawan setelah mengikuti rapat pimpinan Kementrian Pertahanan Rabu 9 januari 2013.

Dijelaskan bahwa 8 pesawat F-16 tersebut saat ini dalam tahap upgrade yang dilakukan di 309th Maintenance Wing di Hill Airforce Base, negara bagian Utah, Amerika Serikat. Standar persenjataan dan elektronik pesawat ini akan ditingkatkan dari semula block 25 menjadi setara block 52. 

Menurut rencana penggantian mesin pesawat akan dilakukan oleh Pratt & Whitney di East Hartford, Connecticut.

309th Maintenance Wing adalah depo pemeliharaan bagi pesawat tempur angkatan udara Amerika, di depo ini melayani pemeliharaan dan perbaikan pesawat F-22A Raptor, F-16 Fighting Falcon, A-10 Thunderbolt, dan C-130 Hercules.

Menurut rencana 1 skadron (16 pesawat) F-16 hibah ini akan ditempatkan di Pekanbaru, sedangkan 8 sisanya ditempatkan di Madiun bersama F-16 A/B block 15 yang saat ini dioperasikan oleh TNI AU. 

Penambahan 1 skadron tempur di Pekanbaru tersebut sesuai dengan rencana strategis (Renstra I) periode 2005-2014. TNI AU berencana menambah 3 skadron pesawat tempur lagi pada Renstra II (2015-2024) sehingga secara total TNI AU akan mempunyai 11 skadron tempur.

Korea Selatan pernah diberitakan menawarkan untuk menghibahkan 16 pesawat tempur F-5E/F kepada Indonesia, pada sisi yang lain Amerika juga menawarkan tambahan hibah 10 pesawat F-16 C/D block 25, namun sampai saat ini belum ada berita mengenai diterima atau tidaknya tawaran pesawat dari dua negara ini. 

(Defense Studies)

View the Original article

Hanggar Baru F-16 Hibah Disiapkan di Pekanbaru

on Monday, October 15, 2012

15 Oktober 2012


Tambahan F-16 akan ditempatkan sebagai skadron udara baru di Pekanbaru, Riau (photo : Dani WF)

Dapat hibah, TNI AU bentuk skuadron baru

Sindonews.com - TNI Angkatan Udara (AU) akan membentuk skuadron baru setelah menerima 24 pesawat F-16 yang dihibahkan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS). Pesawat itu sendiri rencananya akan mulai didatangkan pada 2014 mendatang secara bertahap.

Panglima Koopsau I Marsekal Muda (Marsda) TNI Bagus Puruhito mengatakan, hingga saat ini proses hibah 24 pesawat F-16 dari Pemerintah AS masih terus dilakukan.

Rencananya, sebagian dari pesawat hibah tersebut akan ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Namun, tempatnya tidak disatukan dengan skuadron 12 yang berisi pesawat tempur Hawk buatan Inggris.

"Penamaan skuadron pesawat F-16 bisa Skuadron 16, atau apa namanya itu nanti oleh KSAU (Kepala Staf Angkatan Udara). Jadi tidak ditempatkan di Skuadron 12," katanya di Lanud Husein Sastranegara, Bandung, Sabtu (13/10/2012).

Untuk itu, pihaknya juga saat ini tengah membangun hanggar baru yang akan ditempati pesawat F-16 asal AS itu. Hanggar itu sendiri ditargetkan akan selesai dibangun pada 2014, sehingga bisa langsung ditempati.

Menurutnya, pesawat F-16 memang sengaja ditempatkan di Pekanbaru, karena berbatasan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. "Untuk mengikuti perkembangan teknologi, mengisi kekuatan wilayah, supaya seimbang," ujarnya.



View the Original article

Tawaran Hibah Tahap ke 2 dari AS Meliputi 10 Pesawat F-16

on Friday, August 24, 2012

23 Agustus 2012

Jika tawaran ini disetujui maka jumlah pesawat F-16 Indonesia akan menjadi 44 unit (photo : usaf)

AS Kembali Tawarkan Hibah 10 Pesawat Tempur F16 kepada Indonesia


Jakarta - AS kembali menawarkan hibah 10 unit pesawat tempur F16 kepada pemerintah Indonesia setelah sebelumnya menghibahkan 24 pesawat serupa. Pemerintah menyambut baik penawaran itu dan akan membahasnya bersama dengan DPR.

"Yang pertama kita mendapatkan F16 sebanyak 24 unit dari Amerika. Lalu Sekjen kita sebelum 17 Agustus baru pulang dari Amerika melakukan pengecekan terhadap F16. Mereka (AS) menawarkan lagi F16 sebanyak 10 unit," ujar Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, usai menghadiri halal bihalal di Gedung Kemenhan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (23/8/2012).

Menhan mengatakan, penawaran dari AS tersebut harus dibahas bersama dengan DPR. Sebab pesawat tersebut nantinya akan di-upgrade dan membutuhkan biaya yang besar yang harus melalui persetujuan DPR. Sementara, keputusan pembelian pesawat tempur tersebut juga harus diambil bersama dengan kabinet.

"Jadi kita lapor kepada kabinet kemudian kabinet akan menentukan sikap. Sekarang kita masih menunggu dan membahasnya," kata Purnomo.

Penawaran pemerintah AS tersebut disambut baik oleh Pemerintah Indonesia. Menhan berharap, dengan adanya penawaran tersebut nantinya Indonesia akan memiliki tiga skuadron pesawat tempur F16.

"Kita menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Amerika yang sudah memberikan lagi penawaran penambahan grand F16. Jadi nanti kita berharap punya kekuatan 3 skuadron F16," katanya.

Hibah 24 pesawat F16 dari AS akan tiba di Indonesia pada 2014. Pesawat model block 25 ini akan di-upgrade menjadi block 52 yang diongkosi pemerintah Indonesia. Hibah itu diumumkan oleh Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali tahun silam.



View the Original article

AS Menawarkan Tambahan Hibah Pesawat F-16

on Saturday, August 18, 2012

16 Agustus 2012


Jika sasaran hibah adalah untuk membentuk tiga skadron pesawat F-16, maka dengan 10 pesawat F-16 yang saat ini dimiliki ditambah dengan 24 pesawat hibah yang telah disepakati maka masih terdapat kekurangan 14 pesawat. Jumlah 14 pesawat itulah yang diperkirakan sebagai tambahan tawaran hibah berikutnya dari AS. (photo : Arkansas ANG)

Menhan: AS Tawari Hibah F-16

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, Amerika Serikat kembali menawari hibah pesawat tempur F-16 saat Sekjen Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto berkunjung ke negara itu pekan lalu.

"Mereka (AS) positif untuk menambah hibah lagi," kata Menhan kepada wartawan di Kantor Kemhan, Jakarta, Rabu.

Pengiriman 24 pesawat F-16 bekas pakai yang sebelumnya telah direncanakan akan dihibahkan ke Indonesia, hingga kini belum terealisasikan.

Purnomo mengatakan, tawaran dari pemerintah AS itu akan dibicarakan kembali. Jika disetujui, maka akan sangat berpengaruh pada peningkatan kekuatan dirgantara karena jumlah skadron tempur TNI Angkatan Udara bisa naik hingga tiga kali lipat dari yang ada sekarang.

"Hibah ini akan mempercepat pencapaian program kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) TNI," ujarnya.

Ia mengaku tidak khawatir akan kemungkinan terjadinya halangan dalam proses realisasinya karena dimungkinkan situasi politik di Amerika Serikat berubah, jika Presiden Barack Obama gagal terpilih pada pemilihan mendatang karena rencana hibah tersebut telah melalui persetujuan parlemen setempat.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto tidak menjelaskan secara rinci berapa jumlah pesawat yang akan dihibahkan kembali oleh Amerika itu, namun pesawat yang akan dihibahkan itu memiliki spesifikasi yang sama dengan 24 unit F-16 yang lebih dulu dihibahkan.

Pesawat F-16 itu akan di `up grade` kemampuannya menjadi setara pesawat tempur F-16 Blok 52. Dengan up grade tersebut, maka pesawat akan mampu terbang dalam kurun waktu sekitar 15-20 tahun lagi.

Diperkirakan hingga 2014 nanti ada sekitar 45 alutsista bergerak, termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia.

Terkait penambahan jumlah pesawat tempur dan pesawat angkut yang akan dimiliki oleh TNI Angkatan Udara, Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Udara Marsda TNI JFP Sitompul mengatakan, TNI AU sudah melakukan rekruitmen penerbang setiap tahunnya sekitar 30 orang.

"Dengan rekruitmen yang berjalan tersebut, diprediksi penambahan puluhan pesawat akan tetap bisa diawaki," ujarnya. (S037)



View the Original article

Pesawat Hercules Hibah Masih Dapat Dipakai Selama 20 Tahun

on Tuesday, July 10, 2012

09 Februari 2012

Pesawat Hercules C-130H Australia telah digantikan oleh seri terbaru yaitu C-130J, oleh Lockheed Martin seri C-130J ini sekarang dibanderol seharga 70 juta USD sebuahnya (photo : sirsteve)

Alasan RI terima hibah Hercules bekas dari Australia

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro mengatakan, empat pesawat hibah yang didapat Indonesia dari Australia merupakan pesawat yang layak terbang. Tidak hanya itu, beberapa pertimbangan sebelum menerima pesawat tersebut juga sudah dilakukan, salah satunya jam terbang.

"Ini pesawatnya kalau dilihat dari jam terbangnya itu masih bisa terbang sekitar lima belas sampai dua puluh tahun, yang pesawat hibah. Justru itu salah satu pertimbangan waktu kami ambil, kami tidak sembarangan ambil," kata Purnomo kepada wartawan saat ditemui di kantor Kemenpolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jumat (6/7).

Purnomo mengatakan, bahkan sebelum memutuskan untuk diambil, beberapa kondisi kelayakan terbang pesawat tersebut juga diperhatikan, walaupun tetap akan dilakukan pembaruan.

"Waktu kami mau ambil itu kami juga lihat, satu, kondisi untuk layak terbangnya sampai berapa lama, terus avionik, lalu kondisi strukturnya. Tetapi sekarang tidak hanya itu, sekarang kan mau kami up grade, karena itu kami kirim tim inspeksi," jelas dia.

Purnomo mengatakan, nantinya untuk alokasi pembiayaan tersebut memang belum bisa diputuskan. Sebab, tim inspeksi yang dikirim ke Australia belum kembali ke Indonesia.

"Iya mereka setelah melakukan inspeksi, mereka juga akan menghitung total kebutuhannya berapa. Kemudian mereka akan memaparkan di tim teknis angkatan udara. Mungkin kalau dari tim teknisnya mengatakan ini perlu, namun dari tim manajemennya sudah cukup dan sebagainya baru dilaporkan ke kami," imbuhnya.

Oleh karena itu, saat ini Menhan juga belum bisa mengisarkan berapa jumlah anggaran yang akan diperlukan untuk melakukan perbaikan pesawat tersebut.

"Belum tahu, bisa besar bisa lebih kecil . Tergantung tim inspeksi yang sekarang ini berada di Australia. Jadi yang paling bagus kami tunggu sampai nanti tim inspeksi pulang, melaporkan ke kami berapa sebetulnya biaya yang diperlukan untuk melakukan perbaikan supaya dia serviceable dari empat pesawat itu," tambahnya.

Saat ditanya mengapa Indonesia tidak membeli pesawat Hercules baru. Purnomo beralasan, pesawat Hercules baru sangat mahal.

"Mengambil pesawat Hercules yang baru itu sekarang mahal sekali. Lalu Hercules seri H sekarang sudah tidak ada lagi, dan Amerika sekarang memproduksi seri J, dan itu harganya mahal sekali, itu bisa empat kali lipat, mahal sekali, karena dia bisa terbang tinggi lalu avionik sudah berubah," terangnya.



View the Original article

Indonesia-Australia Tandatangani MoU Hibah Empat Pesawat Hercules

on Tuesday, July 3, 2012

02 Juli 2012

Pesawat C-130H Hercules RAAF (photo : sirsteve)

Darwin (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Australia menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) hibah empat pesawat Hercules tipe C-130 H dari Australia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Haryanto dan Panglima Angkatan Bersenjata Australia David Hurley menandatangani MoU tentang hibah pesawat tersebut di RAAF Darwin, Australia, Senin.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan koleganya, Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith, menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman hibah yang dilakukan di depan pesawat Hercules yang akan dihibahkan itu.

Dalam sambutannya, Smith mengatakan Australia sudah mendapat persetujuan Amerika Serikat (AS), sebagai produsen pesawat Hercules, untuk menghibahkan ke Indonesia. Ia menambahkan pemberian hibah produk-produk militer asal AS harus seizin negara tersebut.

Menteri Purnomo Yusgiantoro mengatakan hibah pesawat Hercules itu dibutuhkan Indonesia, terutama untuk mendukung operasi-operasi militer bukan perang seperti penanganan bencana.

"Atas nama pemerintah, saya sangat mengapresiasi hal ini," katanya.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, empat pesawat hibah tersebut tidak bisa langsung dibawa pulang karena akan direnovasi terlebih dulu.

Perbaikan, termasuk pengecatan dan penggantian suku cadang, untuk pesawat yang dihibahkan membutuhkan dana sekitar 50 juta dolar Australia.



View the Original article

Indonesia-Australia Bahas Finalisasi Hibah 5 Hercules

on Monday, July 2, 2012

02 Juli 2012

 Pesawat C-130H RAAF (photo : sirsteve)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Australia akan membahas finalisasi hibah lima pesawat Hercules C-130 dari Australia, termasuk biaya yang harus dikeluarkan pemerintah terkait proses tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pembahasan final mengenai hibah pesawat itu akan menjadi salah satu agenda kunjungan Presiden ke Darwin tanggal 2-4 Juli 2012.

"Sore ini ada kegiatan pertemuan Menteri Pertahanan RI dengan Menteri Pertahanan Australia. Rencananya ada lima C-130 dari Australia dengan format hibah dengan ada biaya yang dikeluarkan dari Indonesia," kata Presiden saat memberikan keterangan pers di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta di Jakarta, Senin.

Menurut Kepala Negara, Indonesia membutuhkan pesawat transport tersebut karena setelah kecelakaan pesawat Fokker milik TNI AU beberapa pekan lalu, pesawat sejenis yang dimiliki TNI AU belum bisa dioperasikan sampai penyelidikan selesai.

Dia menjelaskan pula bahwa meski pesawat CN 295 pengganti Fokker 27 milik TNI AU sedang disiapkan dan memiliki kapasitas yang lebih besar namun TNI AU akan tetap kembali mengembangkan armada C-130 yang pernah dimiliki dengan sejumlah pembaruan.



View the Original article

Hibah 25 Tank LVT Korsel Tunggu Izin AS

on Thursday, May 24, 2012

24 Mei 2012

Indonesia telah menerima 10 LVT-7 hibah dari Korea dari rencana 35 unit (photo : dixie)

Jakarta, InfoPublik - Kembali Indonesia akan menerima hibah 25 tank amphibi Landing Vehicle Tracked (LVT) dari Korea Selatan untuk digunakan oleh Korps Marinir TNI Angkatan Laut. Namun, prosesnya masih menunggu izin dari Amerika Serikat, pembuat tank tersebut.

"Hibah 25 unit alat tempur LVT itu harus mendapatkan izin dari Amerika Serikat, karena LVT itu merupakan buatan Amerika," jelas Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono usai mengikuti sidang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), di PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/5).

Menurut Panglima TNI, Indonesia sebelumnya juga telah mendapatkan 10 unit LVT dari Korea Selatan, namun di Korsel masih ada 25 unit lagi yang masih layak digunakan dan dihibahkan. "Saat ini sedang diproses untuk mohon dihibahkan pada Indonesia tapi pelaksanaan hibah ini pun harus seizin Amerika. Kita masih menunggu keputusan dari Kemhan Korea dan Amerika Serikat apakah menyetujui untuk dihibahkan ke Indonesia atau tidak," kata Panglima.

Mengenai pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) di dalam negeri, Panglima TNI selaku anggota KKIP, mengatakan, PT PAL sebagai "Lead Integrator" sangat penting untuk diberikan dukungan dalam mewujudkan pembangunan kapal, baik Kapal Cepat Rudal (KCR), Perusak Kapal Rudal (PKR) maupun kapal angkut. "KCR 40M sudah selesai dibangun dan ada beberapa unit. PT PAL juga akan membangun 6 unit KCR-60M dan kapal 105 M, yakni PKR," katanya.

Terkait pembelian Tiga Kapal Selam Korea, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, tiga unit kapal masih dalam proses pembangunan yang dilakukan oleh Korsel dan PT PAL. "Kapal selam pertama akan dilakukan oleh Korsel. Yang kedua separuh-separuh antara Korsel dan PT PAL dan ketiga dibangun di PT PAL. Ini harus dibahas kembali karena harus dilihat kesiapan PT PAL sendiri," katanya.

Pasalnya, kata Menhan yang juga selaku Ketua KKIP, peralatan untuk pembangunan kapal selam itu tidak mudah, sehingga harus terus dibicarakan, sementara proses dari pembuatan ini tetap berjalan.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin menyebutkan proyek kapal selam ini ada dua macam, yakni pengadaannya dan transfer of technology-nya. "Kalau pengadaannya kan sudah selesai dan kita telah kontrak. Ini akan berjalan sekaligus," tuturnya.

Namun, dalam ToT, ada tiga tahapan, yakni pembangunan kapal selam di Korea, separuh-separuh antara Korsel dan PT PAL, dan PT PAL sendiri. "Sejak fase pertama kita sudah melibatkan tenaga-tenaga teknis yang kita kirim dari Indonesia yakni PT PAL ke Korea. Yang menjadi tantangan apabila kita ingin masuk ke fase ketiga, infrastruktur yang ada di PT PAL harus dipersiapkan karena membangun kapal selam memiliki infrastruktur tersendiri dan yang paling penting, harus didukung oleh anggaran yang perlu dipersiapkan. Kemhan juga tengah membicarakan bagaimana kesiapan PT PAL yang terdiri dari Meneg bumn, dan tentunya yang ahli dalam kontrak Kemhan," urainya.(dry)



View the Original article

Komisi I DPR Setujui Hibah 6 Salute Gun kepada Timor Leste

on Thursday, May 17, 2012

16 Mei 2012


Meriam salute gun Paspampres (photo : Kaskus Militer)


Komisi I DPRSetujui Hibah Enam Meriam Milik TNI AD Kepada RDTL
Jakarta, DMC– Komisi I DPR RI Bidang Pertahanan menyetujui rencana pemerintah dalam hal iniKementerian Pertahanan (Kemhan) untuk menghibahkan barang milik Negara berupaenam pucuk meriam Salute Gun TNI AD kepada Pemerintah Republik Demokratis TimorLeste (RDTL).
Persetujuanhibah enam meriam Salute Gun kepada pemerintah RDTL ini disampaikan KetuaKomisi I DPR, Mahfudz Siddiq, dalam forum Raker Anggota Komisi I DPR denganMenteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Laksamana TNI AgusSuhartono, Selasa (15/5) di gedung DPR, Jakarta.
Sebelumnya,pada kesempatan Forum Raker tersebut, Menhan Purnomo Yusgiantoro, menyampaikanbahwa hibah dari enam meriam salute gun tersebut dalam rangka mendukung harikemerdekaan Negara RDTL yang ke-10 yang akan dihadiri banyak tamu negara asing.Selain itu kegiatan hibah ini juga memiliki arti penting dalam menjaga hubunganBilateral antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Timor Leste.
Lebih lanjutMenhan menjelaskan, TNI AD sebelumnya memiliki 18 pucuk meriam salut gunKaliber 75 MM, yang berada di Batalion Armed VII di Bekasi. Ditambahkan MenhanPemerintah Indonesia sebelumnya juga pernah melakukan hibah meriam salut gunkepada pemerintah Papua New Guinea (PNG) sejumlah 6 pucuk. Untuk itu,diungkapkan Menhan, dengan dihibahkannya kembali 6 pucuk meriam salut gunkepada pemerintah Timor Leste, maka TNI hingga kini memiliki 6 pucuk.
Sehubungandengan hal tersebut, Menhan menuturkan pemerintah memiliki rencana untukmengadakan kembali 12 pucuk meriam untuk jenis sama, yang mana rencananya initelah dimasukan dalam anggaran penghematan APBN-P dan optimalisasi untuk tahun2012.
Menhanmengharapkan adanya dukungan politik anggaran untuk merealisasikan targetpemerintah dalam pencapaian modernisasi untuk mengganti 12 pucuk Meriam SaluteGun yang telah dihibahkan kepada dua negara tetangga tersebut.

Turut hadirdalam Raker tersebut, perwakilan dari pemerintah, Wamenhan, SjafrieSjamsoeddin, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Soeparno, Wakasad Letjen TNIBudiman, S.IP, Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, YuriThamrin, dan  Sekjen Kemhan, Marsdya TNIEris Herryanto.



View the Original article

Qantas Defence Ditunjuk untuk Memperbaiki Hercules Hibah untuk TNI AU

on Thursday, January 12, 2012

10 Januari 2012

Perbaikan pesawat C-130H RAAF di Qantas Defence (photo : Qantas Defence)

Jurnas.com MESKIPUN tim teknis baru berangkat Februari mendatang, pesawat angkut Hercules yang dihibahkan pemerintah Australia dipastikan mendapat peremajaan di negeri Kanguru. Perbaikan dilakukan di bengkel milik maskapai Qantas.

Kini tengah dikalkulasi berapa biaya yang dbutuhkan untuk melakukan perbaikan dan membawa pesawat ke Indonesia. "Nominalnya baru diketahui setelah mendapat laporan dari tim teknis yang meninjau pesawat secara langsung ke Australia," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta, Selasa (10/1).

Kontrak kerja sama hibah empat unit pesawat itu juga akan ditandatangani setelah tim teknis melaporkan temuannya. Namun begitu, pemerintah Indonesia dan Australia telah melakukan komunikasi terkait hibah ini. "Amerika sebagai produsen Hercules saat ini juga telah menyetujui rencana hibah dari Australia ke Indonesia. AS dalam hal ini Presiden Barack Obama, memiliki kebijakan, alutsista buatan AS harus mendapatkan persetujuan negeri Paman Sam itu sebelum dihibahkan ke negara lain," katanya.

(Jurnal Nasional)



View the Original article

Hercules Hibah Australia Diremajakan

on Saturday, January 7, 2012

06 Januari 2012

C-130H Hercules Angkatan Udara Australia (photo : FlightCrew)

Jakarta (ANTARA News) - "Pemerintah akan merenovasi dan meremajakan atau retrofit empat pesawat C-130 Hercules hibah dari Australia," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

"Biasanya kalau dapat hibah, atau dapat pesawat, selalu kami cek, renovate, retrofit, kami betul yakinkan bahwa pesawat itu layak terbang," kata Purnomo ketika ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.

"Sekitar ratusan miliar untuk empat pesawat terbang itu. Saya tak tahu persis karena belum diajukan oleh tim," katanya menyinggung perkiraan biaya peremajaan pesawat terbang transpor militer itu.

Menurut dia, tim dari kedua negara akan bertemu untuk membahas kondisi pesawat dan teknis hibah. Hasil pembicaraan tim itu bisa digunakan untuk mengukur biaya retrofit dan kemampuan keempat pesawat itu setelah diremajakan.

Yusgiantoro menjelaskan, pesawat hibah itu berjenis H, atau masuk dalam kategori pesawat baru. Hibah itu juga telah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.

"Karena setiap alutsista buatan Amerika Serikat, di mana pun juga, jika mau dihibahkan walau yang mau menghibahkan negara lain, harus melapor dulu pada Amerika Serikat," katanya.

Australia positif menghibahkan empat unit pesawat Hercules untuk Indonesia setelah sempat tertunda prosesnya pada 2011.

"Kemungkinan kedua tim teknis dari masing-masing negara akan bertemu pada pertengahan Januari ini," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Hartind Asrin, di Jakarta, Selasa (3/1).

Asrin mengatakan, dalam pertemuan itu kedua tim akan membicarakan teknis hibah yang akan dilakukan setelah sempat tertunda pada 2011. Selain mengadakan pertemuan di Jakarta, akan dilakukan pula pertemuan di Australia untuk melihat langsung empat unit Hercules yang akan dihibahkan tersebut, katanya.

Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo, mengatakan pesawat Hercules yang diperlukan TNI-AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI-AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalion sebanyak 26 unit," kata Suprasodjo.

Dia menambahkan, pesawat tipe H yang akan dihibahkan Australia akan digunakan TNI-AU untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua. Selain Angkatan Udara Amerika Serikat, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerima C-130 dari pabriknya. (F008)

(Antara)



View the Original article

Tambahan Hibah 6 Pesawat akan Digunakan Sebagai Suku Cadang

on Saturday, December 10, 2011

09 Desember 2011


Bagian-bagian pesawat F-16 (image : F16net)

6 Pesawat F-16 Akan Dipereteli

NUSA DUA, KOMPAS.com — Selain memberikan hibah berupa 24 pesawat bekas jenis F-16 kepada Indonesia, Amerika Serikat juga akan memberi tambahan 6 pesawat F-16 bekas lainnya yang khusus untuk dipereteli dan diambili suku cadangnya.

"Saya pastikan biaya perbaikan akan jauh lebih rendah daripada membeli pesawat yang baru," kata Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel, Kamis (8/12/2011), dalam jumpa pers sebelum pembukaan Bali Democracy Forum (DBF) di Nusa Dua, Bali. Adapun DBF sudah resmi dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pukul 10.00 WIT tadi.

Menurut Scot, pesawat yang diberikan itu bukan sampah dan kondisinya masih bagus. Scot juga menegaskan bahwa AS tidak memaksa Indonesia untuk menerima pesawat tersebut, tetapi Indonesia yang lebih dulu meminta.

Kini, pembicaraan lebih mendetail soal hibah pesawat ini masih dilakukan. Rencananya pesawat itu akan tiba di Indonesia sekitar tahun 2014.




View the Original article

Pesawat F-16 Hibah dari AS akan Tiba di Indonesia 2014

on Tuesday, November 29, 2011

29 November 2011


Dengan tambahan 24 pesawat F16, Indonesia akan memiliki tiga skuadron F-16 yang akan di deploy ke seluruh nusantara. (photo : Aus DoD)

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Brigjen Hartind Asrin kepada VOA di Jakarta, Senin mengatakan dua lusin pesawat F16 pemberian Amerika Serikat yang telah diperbaharui akan tiba di Indonesia mulai 2014.

Hartind mengatakan pesawat F16 model block 25 ini akan diperbaharui (diremajakan) menjadi block 52, dengan teknologi terbaru dan akan tiba di Indonesia dalam posisi siap pakai.
Dengan tibanya 24 pesawat F16 kata Hartind, Indonesia akan memiliki tiga skuadron yang akan cukup kuat untuk menjaga teritorial udara.

Menurutnya Indonesia saat ini masih kekurangan pesawat tempur untuk menjaga kedaulatan terutama di udara.

Ia mengatakan, "Untuk Patroli diudara menjaga kedaulatan NKRI di udara gitu. Jadi akan patroli di daerah-daerah, tentunya di kita kan punya koops-koops (koops 1 sampai IV) yah, jadi dari Jakarta sampai ke Papua sana. Nanti deployment-nya sesuai dengan koops-koops yang ada tergelar itu.

Dengan adanya itu kira-kira kita sudah mencapai ke minimum esensial forcedari kekuatan angkatan udara Indonesia."

Lebih lanjut Hartind menjelaskan peremajaan 24 pesawat F16 milik Amerika itu akan dibiayai oleh Indonesia. Saat ini, kata Hartind, pihaknya masih terus merundingkan harga dengan pihak Amerika Serikat agar biaya peremajaan pesawat F16 tersebut bisa di bawah 760 juta dolar AS.


Proses peremajaan F16 ini, kata Hartind, diperkirakan makan waktu selama tiga tahun. Hartind juga membantah jika pesawat hibah dari Amerika itu adalah barang rongsokan.

Menurutnya, pesawat yang akan dimodernisasi di perusahaan penerbangan Lockheed Martin itu memiliki ketahanan sekitar 20 tahun dengan 4.000 jam terbang.

Ia mengatakan rata-rata penerbang menghabiskan sekitar 150 jam terbang per tahun.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan itu menambahkan penerimaan hibah pesawat ini dinilai lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan membeli pesawat baru.

"Kalau beli baru, kita cuma dapat 6 (pesawat) dengan uang segitu, tetapi kalau kita up grade yang ada sekarang kita dapat 24," ujar Hartind.

Kesepakatan transfer pesawat tempur ini diumumkan oleh Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pengamat pertahanan dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto menilai hibah pesawat F16 dari Amerika Serikat itu lebih tepat dibanding pemerintah membeli pesawat tempur baru.

Andi Widjajanto mengatakan, "Karena kalau membeli pesawat baru, berarti kita akan hanya datang Sukhoi 27/30. Berarti nanti seluruh skuadron pesawat tempur baru kita itu Sukhoi. Dan kita akan mengulangi masalah ketergantungan ke (hanya) satu produsen, yang berusaha kita hindari.

Karena berusaha melakukan diversifikasi ini kalau kita merencanakan akan punya 4 skuadron sampai 2014 maka skuadron lainnya tidak bisa Sukhoi harus mencari pesawat tipe lain dan dari pabrikan lain. (Ini) sangat signifikan, terutama untuk memproleh penguasaan dan pengendalian di udara."

Namun Andi Widjajanto juga menambahkan, bahwa pemerintah Indonesia harus transparan terkait hibah pesawat dari Amerika itu.




View the Original article