Showing posts with label Kembangkan. Show all posts
Showing posts with label Kembangkan. Show all posts

ITS dan PT Solusi-247 Kembangkan Radar Maritim

on Friday, May 10, 2013

10 Mei 2013


Pusat kendali Vessels Traffic Management Information System (all photos : solusi 247)

Surabaya (ANTARA Newsa) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan perusahaan penyedia layanan teknologi komunikasi PT

Solusi-247 menjalin kerja sama untuk mengembangkan "marine radar" (radar maritim).

Kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT Solusi-247, Beno Pradekso, bersama Pembantu Rektor IV ITS Prof Dr Darminto di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Rabu.

Beno Pradekso mengatakan pihaknya kini sedang gencar melakukan riset untuk pengembangan produk perusahaannya, karena itu pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, seperti ITS.

"Beberapa bidang riset yang akan kami lakukan dengan ITS antara lain Marine Radar, Electric Support Measure (ESM), Radio Direction Finding (RDF) Receiver , Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), dan Integrated Surveillance framework," katanya.

Menurut dia, perusahaannya telah melakukan riset ESM hampir 90 persen dan telah diuji di Pelabuhan Tanjung Priok.



"Pengawasan laut yang belum optimal, karena keterbatasan fasilitas menjadi dasar bagi Solusi 247 untuk mendalami aplikasi teknologi produk itu di bidang maritim," katanya.

Hingga saat ini, persoalan mengenai kecelakaan kapal, "illegal traffic", pencurian ikan, hingga pembajakan kapal nelayan menjadi masalah tak terpecahkan karena lemahnya aktivitas monitoring.

"Oleh karena itu, kami mengajak ITS, kami memiliki pengetahuan tentang sensor dan radarnya, sedangkan ITS punya pengetahuan di bidang maritim dan perkapalannya," katanya.

Beno mengatakan ITS adalah mitra yang sangat sesuai untuk melaksanakan kerja sama ini, karena ITS unggul di bidang maritim, lalu keberadaan sentra nelayan, pelabuhan internasional, dan armada pertahanan laut di Surabaya juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Senada dengan itu, Prof Dr Darminto mengatakan kerja sama itu bukan pertama kalinya ITS bekerja sama dengan pihak swasta.

"Kami berharap produk-produk yang dikembangkan nanti dapat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat," katanya.

Untuk tahap awal, kerja sama akan dilangsungkan selama dua tahun. "Tidak perlu kita menggunakan produk asing untuk aplikasi ICT di Indonesia. Lebih baik kita buat sendiri dan kita kuasai teknologinya," katanya. 

(Antara)

View the Original article

BPPT – PT DI – PT LEN Serius Kembangkan Skuadron PUNA Wulung

on Tuesday, April 30, 2013

29 April 2013


PUNA/UAV Wulung akan diproduksi sebanyak satu skuadron, 16 atau 24 unit. Namun pada  tahap awal PT DI akan memproduksi tiga unit (photo : Viva)

BPPT menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT LEN Industri untuk memproduksi dan mengembangkan Teknologi Pesawat Udara Nir Awak (Puna) Wulung. Hal tersebut dituangkan dalam penandatanganan Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala BPPT, Direktur Teknologi dan Produksi PT LEN Industri, serta Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, di BPPT (29/4).

“Penandatanganan naskah MoU hari ini merupakan tindak lanjut dari demo terbang Puna Oktober 2012 lalu di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Setelah pengujian dinilai berhasil, kemudian sesuai dengan arahan Menteri Pertahanan dilakukan persiapan produksi. Jika produksi Puna ini berhasil dibentuk menjadi salah satu skuadron dari TNI AU, maka ini akan menjadi skuadron pertama Puna yang merupakan hasil karya anak bangsa,” ungkap Kepala BPPT, Marzan A Iskandar.

Bersatunya tiga stakeholder yang berkepentingan dalam pengembangan Puna, yaitu BPPT, PT DI dan PT Len Industri dinilai Marzan sebagai wujud nyata penerapan sistem inovasi untuk mendukung penerapan inovasi teknologi hingga tahap digunakan oleh end user.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana pun menekankan bahwa kerjasama tersebut merupakan penajaman peran dari masing-masing institusi. BPPT, yang merupakan lembaga pemerintah bertugas untuk mengkaji, menerapkan dan meneliti teknologi.
Sementara PT DI sebagai industri bertugas untuk mengembangkan teknologi yang telah dihasilkan BPPT untuk diindustrikan sehingga siap digunakan oleh masyarakat.

Sementara itu berbicara mengenai teknologi elektronik dan komunikasinya, Direktur Teknologi dan Produksi PT Len Industri, Darman Mappangara mengatakan pihaknya dalam pengembangan Puna Wulung kali ini karena ditujukan untuk misi surveilance, maka teknologi yang tepat digunakan adalah electro optical surveilance, on board system untuk flight control dan ground station. “Selain itu juga ada sebuah sistem komunikasi yang berfungsi untuk menerima secara real time hasil pantauan Puna yang sedang bertugas,” ungkapnya.

Ke depannya, Darma menegaskan kalau teknologi elektronik dan komunikasi yang akan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan dari Puna itu sendiri. Dengan semakin berkembangnya kebutuhan Puna baik untuk misi penyusupan maupun pertahanan tentu akan semakin berkembang pula teknologi yang berbeda yang dibutuhkan baik dari sisi elektroniknya maupun dari sisi teknologi lainnya. “Kerjasama ini penting dalam rangka percepatan penguasaan teknologi pertahanan,” terangnya.

Selanjutnya disampaikan Kepala BPPT bahwa kerjasama dengan PT DI dan PT Len Industri ini juga akan diperluas dalam bidang lain diantaranya yaitu bidang teknologi kedirgantaraan, hankam dan energi. “Harapannya semoga kerjasama ini dapat segera direalisasikan dan menjadi contoh nyata bagaimana perlunya sinergi antara berbagai stakeholder agar inovasi teknologi yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh pengguna atau masyarakat,” tutupnya.

Puna Wulung

Puna Wulung menggunakan mesin 2 tak. Untuk memperoleh tenaga yang optimal, bahan bakar yang digunakan dipilih dari jenis pertamax. Bahan material pesawat ini terbuat dari bahan komposit (komposisi serat kaca, fiber, karbon), sehingga menghasilkan struktur pesawat yang ringan.

PUNA mampu terbang selama 4 jam tanpa henti. Jarak tempuh yang maksimalnya 70 km, dengan kecepatan jelajah 52 hingga 69 knot. Puna Wulung bisa dikendalikan dari jarak 73 km dengan menggunakan kendali jarak jauh (remote control).

(BPPT)

View the Original article

PT Pindad dan TNI AD Kembangkan 'Gatling Gun'

on Thursday, March 21, 2013

20 Maret 2013


Gatling gun yang dikembangkan oleh TNI AD-Pindad (photo : Defense Studies)

JAKARTA, KOMPAS.com —  Salah satu alat yang menarik perhatian pengunjung Jakarta International Defence Dialog (JIDD) adalah gattling gun yang dipamerkan di stan Kementerian Pertahanan. Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao bahkan sempat melongok melihat-lihat laras kaliber 7.56.

Dirut PT Pindad Adik Avianto mengatakan, saat ini gattling gun itu memang masih dalam fase prototipe. Uji statis telah selesai dilaksanakan. Dalam waktu dekat akan diadakan uji dinamik. Senjata ini bisa memuntahkan peluru dengan kecepatan 3.000 butir per menit. Kecepatan itu untuk mengimbangi kecepatan alat yang membawanya seperti helikopter serbu atau kapal perang.

Menurut Adik, proyek ini berasal dari pengembangan Litbang TNI AD. Sesuai dengan perencanaan dan doktrin, di waktu-waktu mendatang, dibutuhkan senjata seperti ini. "Jadi kalau ke depan kita pengadaan, Pindad sudah bisa menyediakan," kata Adik.

(Kompas)

View the Original article

Pindad Berencana Kembangkan Tank Tempur Medium Tanpa ToT

on Saturday, December 15, 2012

16 Oktober 2012

Tank tempur medium yang akan dikembangkan Pindad akan menutup gap yang lebar antara Light Tank dan MBT (photo : detik)

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG- Setelah sukses membuat kendaraan tempur jenis Anoa, PT Pindad berencana membuat tank tempur medium (Medium Battle Tank).

"Kami akan membuat tank tempur medium," ujar Kepala Sekretariat Perusahaan PT Pindad Iwan Kusdiana, di PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/10/2012).

Iwan menjelaskan, tahapan yang akan dimulai pihaknya adalah berkonsentrasi membuat tank tempur medium dengan bobot sekitar 20 ton.

Meski rencana pembuatan tank tempur medium baru dilakukan, Iwan mengungkapkan pihaknya akan melakukan pengembangan tanpa transfer of technology (ToT) dengan produsen pembuat tank dari luar negeri.

"Kami tidak kerja sama dengan luar. Ini kami kembangkan sendiri," ucap Iwan.

Iwan optimistis pihaknya dapat menyelesaikan pengembangan tank tempur medium dengan jangka waktu yang cepat. Targetnya, pada 2014 prototype tank ini sudah jadi. (*)

Tak Tiru Buatan Jerman

Meski baru pertama kalinya PT. Pindad mengembangkan tank tempur Medium (Medium Battle Tank) pihaknya tidak akan meniru model tank tempur Medium Marder dari Jerman yang akan dipesan oleh Indonesia.

"Kami tidak akan meniru dari sana(Jerman)," ujar Kepala Divisi Kendaraan Khusus PT Pindad, Hery Mochtady di PT. Pindad, Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/10/2012).

Hery menerangkan, pengembangan tank tempur Medium ini tentunya dibuat sesuai kebutuhan dan permintaan TNI, sehingga ketika beroperasi nanti dapat digunakan secara maksimal.

"Kami akan desain dengan menyesuaikan requirement dari kavaleri TNI," ucap Hery.

Sejauh ini, lanjut Hery tahapan yang telah dilalui sampai pada pembuatan desain. Dalam pembuatan desain inilah kavaleri TNI dilibatkan meski tidak sampai ke tahap lebih jauh.

"Target kami pada 2014 sudah jadi prototype. Setelah prototype jadi, kami mulai produksi," kata Hery.



View the Original article