Showing posts with label Mesin. Show all posts
Showing posts with label Mesin. Show all posts

Empat Mesin Sukhoi Su-30MK2 Tiba

on Friday, March 1, 2013

28 Februari 2013


Mesin pesawat Sukhoi Su-30MK2 yang diangkut pesawat An-124 (photo : TNI AU)

Setelah beberapa hari lalu dua Pesawat Tempur SU-30 MK 2 dari 6 Pesawat pesanan pemerintah Indonesia buatan Rusia memperkuat Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Tim penerimaan kedatangan Pesawat tempur Sukhoi Lanud Sultan Hasanuddin Rabu malam (27/2) kembali disibukan untuk menerima kedatangan empat engine Pesawat tempur Sukhoi 27/30 yang diangkut dengan menggunakan Pesawat Antonov An-124-100 Flight Number RA/82043 dengan Pilot Ustelenov.

Kedatangan Pesawat An-124-100 yang parkir di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin tersebut disaksikan oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Barhim, Para Kepala Dinas, Komandan Satuan, Tim dari Kemhan, Mabes TNI dan Mabesau serta Pejabat dari PT Trimarga Rekatama.

Pesawat An-124-100 mempunyai panjang badan 68.96 m dan lebar sayap 73.3 m serta tinggi 20.78 m, yang membawa empat engine pesawat tempur SU-27/30 buatan KNAAPO (Komsomolsk-na Amure Aircraft Production Association) Rusia, Take off dari Bandara Dzemgi Rusia Selasa (26/2) dengan rute penerbangan Bandara Dzemgi Rusia- Bandara Calcutta (India) - Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, yang merupakan satu rangkaian tahapan dari kedatangan enam unit pesawat Temnpur SU-30 MK2 pesanan pemerintah Indonesia buatan Rusia.

(TNI AU)

View the Original article

Dirgantara Indonesia Beli Mesin Baru Pembuatan Pesawat

on Wednesday, September 19, 2012

19 September 2012

Haas VF6-50 dan VR-11B (all photos : haas)

Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (Persero) membeli mesin-mesin produksi baru guna memenuhi pesanan pembuatan pesawat setelah banyak masuk pesanan (order) pembelian akhir-akhir ini.

"Kami kebanjiran pesanan, makanya permesinan yang sudah berusia rata-rata 30 tahun kami revitalisasi," kata Kepala Humas PTDI Rakhendi Triyatna.

Selain derasnya pesanan itu, kata Rakhendi, PTDI sedang dalam jadwal pembenahan sesuai dengan program restrukturisasi dan revitalisasinya, sehingga selain melaksanakan penyiapan SDM sesuai kebutuhan masa depan, juga pengadaan mesin-mesin baru guna kelancaran proses produksi.

Mesin-mesin baru yang sudah dioperasikan yaitu sebanyak delapan unit dan lima unit lainnya dalam proses kedatangan.

Mesin tersebut adalah mesin CNC (Computerized Numerical Control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P.

Mesin-mesin berteknologi tinggi dalam kondisi baru tersebut didatangkan dari beberapa pabrik di antaranya dari Jerman, Itali dan Taiwan.

Rakhendi menjelaskan, kemampuan mesin CNC dapat diandalkan dan pengalaman selama ini menunjukkan di samping mampu menyelesaikan pembuatan komponen untuk pesawat-pesawat produk sendiri, juga PTDI mampu memasok dalam jumlah besar komponen-komponen pesanan Airbus, Boeing dan Bombardier.


"Sebagaimana sering kami ungkapkan, PTDI merupakan pemasok tunggal untuk bagian tengah, depan, sayap pesawat A380, pesawat terbesar di dunia yang berlantai dua," kata Rakhendi sembari menambahkan pihaknya saat ini memiliki lebih dari 100 unit mesin CNC dan TNC.

Mesin-mesin yang ada itu sebelumnya telah beroperasi dengan sangat produktif dan rata-rata dioperasikan sedikitnya 15 jam per hari guna memenuhi target produksi yang sudah dijadwalkan penyelesaiannya secara sangat ketat.

Guna menyambut program CN295, saat ini pembangunan Assy (Assembling) CN295 sedang disiapkan oleh PTDI.

Dasar pembuatan pesawat CN295 adalah hasil pengembangan dari pesawat CN235 oleh Airbus Military, di antaranya dengan menambah panjang badan pesawat sekitar3 (tiga) meter, landing gearnya diperkuat dan power enginenya ditambah.

Persiapan yang dilakukan untuk pekerjaan Assy (Assembling) pesawat CN295 yang akan dilakukan, PTDI menyiapkan badan pesawat (fuselage) yang lebih panjang, semua sedang dalam pengerjaan.

Dengan terus mempromosikan pesawat CN235, CN295, NC212-400 serta pesawat N219 (dalam tahap rancang bangun), PTDI saat ini terus berbenah diri dalam segala hal untuk menyambut prospek pasar di kawasan Asia Pasifik yang semakin meningkat, demikian Rakhendi.



View the Original article

UAV Pesanan Kemhan Berteknologi Israel dengan Mesin dari Italia

on Wednesday, March 28, 2012

26 Maret 2012


Perusahaan Kital asal Filipina memenangkan tender UAV oleh Kemhan RI mengalahkan 5 kontestan lainnya dari Indonesia, Belanda, Ceko, Hongaria, dan Irkut-Russia (photo : mondoweiss)

RI akan beli pesawat tanpa awak teknologi Israel

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertahanan berencana membeli empat pesawat tanpa awak dari Filipina.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsuddin dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, pesawat tanpa awak yang akan dibeli dari Filipina itu menggunakan teknologi dari Israel.

Sejauh ini, rencana pembelian pesawat tanpa awak itu masih menunggu persetujuan DPR.

"Yang paling spesifik dalam masalah pembelian 4 pesawat tanpa awak ini sebesar 16 juta dolar Amerika Serikat, apabila disetujui oleh DPR sehingga kontraknya efektif, maka pesawat itu akan diterima dalam waktu 18 bulan setelah kontrak," kata Sjafrie.

Ia menjelaskan, pesawat tanpa awak ini mampu terbang dengan radiusnya 200-400 kilometer. Pesawat tanpa awak ini juga, kata dia, dapat dioperasikan manual dengan daya jelajah terbang selama 20 jam.

Ia menambahkan, produk Filiphina ini dibuat oleh Kital Philippine Corporation (KPC). Mereka mengkombinasikan mesin dari Italia, infrastruktur dari Filipina dan teknologi dari Israel.

"Kami membeli teknologi. Ini yang perlu bapak-bapak ketahui bahwa kita tidak membeli ke Israel tetapi membeli teknologi sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam sistem yang ada di pesawat tersebut. Kami berhubungan ke perusahaan asal Filipina, Kital Philippine Corporation (KPC) itu. Dan kami tidak berhubungan dengan Israel," jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Partai Gerindra Ahmad Muzani meminta rencana pembelian pesawat tanpa awak tersebut dibatalkan sebab Indonesia sudah bisa mempunyai produk serupa bahkan dibeli negara tetangga seperti Malaysia.

Ketika menjawab Muzani, Sjafrie menerangkan produk Indonesia belum memenuhi standar yang sudah ditetapkan. Misalnya soal radius terbang yang 200 kilometer, tidak bisa digunakan secara otomatis serta soal kamera. Ia meminta agar Indonesia tetap membeli empat pesawat tanpa awak teknologi Israel itu.




View the Original article

Helikoper TNI AL Diperkuat Senapan Mesin Kaliber 7,62 mm

on Saturday, December 31, 2011

20 Desember 2011

Helikopter BO-105 TNI AL (all photos : Armatim)
Peralatan tempur milik TNI AL makin diperkuat persenjataannya, khususnya unsur kekuatan Pesawat Udara (Pesud) TNI AL yang dipasangi dengan Senapan Mesin kaliber 7,62 mm buatan PT. Pindad. Senapan Mesin tipe MAG-58M dipasang pada Heli Bolkow-105 milik Skuadron 400 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda Surabaya. Peralatan tempur itu sedang di uji kemampuannya dalam uji coba penembakan bertempat di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AL Grati, Pasuruan Senin (19/12).

Penembakan senapan mesin jenis Door Gun Post (DGP) tipe MAG-58M melalui Helikopter BO-105 disaksikan langsung oleh Sekertaris Dinas Kelaikan Material Angkatan Laut (Sekdismatal) Kolonel Laut (T) Dwi Yuniarso. Kegiatan itu dihadiri juga oleh tim teknis dari PT. Pindad serta perwakilan dari PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) selaku pembuat rancang bangun Helikopter BO-105. Uji coba itu merupakan pertama kalinya dilaksanakan oleh jajaran TNI AL pada unsur kekuatan udara jenis Helikopter kawal (Escort) BO-105 yang berada di Skuadron-400 Puspenerbal Juanda Surabaya.


Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan akurasi senjata tersebut saat ditembakkan dari udara, telah dibentuk tim Pelaksana uji coba penembakan dengan Helikopter BO-105 Escort di Puslatpur TNI AL Grati Pasuruan Jawa Timur. Tim tersebut dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Imam Musani yang sehari-hari menjabat sebagai Direktorat Perencanaan dan Pengembangan (Direnbang) Puspenerbal Juanda.


Uji coba penembakan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu penembakan percobaan ketika heli masih berada dilandasan (Ground), penembakan saat Heli di udara (Hover) dan penembakan pada ketikaHeli terbang melintasi target (Flying). Jarak penembakan dari Heli ke sasaran kurang lebih sejauh 600 meter dengan ketinggian 300 sampai dengan 350 fit diatas permukaan tanah menggunakan amunisi kaliber 7,62mm.

Kemampuan taktis yang dimiliki Helikopter BO-105 Escort diantaranya adalah mampu melakukan mobilisasi yang tinggi khususnya faktor kecepatan dan pendadakan, memiliki tenaga pendorong yang relatif besar dan kemampuan manufer yang sangat lincah. Dapat mendarat di semua jenis Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang memiliki landasan helikopter (Helideck) serta mampu terbang rendah mengikuti bentuk permukaan daratan dan dapat menghindari deteksi radar musuh.
Mobilitas helikopter ini cukup singkat dalam kesiapan terbang, misalnya untuk siap tinggal landas (Take Off) di darat hanya membutuhkan waktu kira-kira 15 menit sedangkan di laut Take Off melalui (Helideck KRI) membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Keunggulan lain yang dimiliki Helikopter BO-105 yaitu dapat terbang dengan kecepatan maksimum 80 knot dengan kecepatan jelajah 70 knot.



Helikopter NBO-105 Escort merupakan helikopter kawal pada pelaksanaan operasi pendaratan Pasukan Pendarat (Pasrat) lintas helikopter dalam operasi amfibi dan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC TNI). Hal ini sangat dimungkinkan, mengingat keunggulan dalam rancang bangun, efektifitas dan kecepatan bermanuver serta memiliki kemudahan untuk memasang dan melepas peralatan persenjataan sesuai tugas yang diemban.

Selanjutnya dari hasil uji coba ini, akan dilaksanakan evaluasi guna lebih menyempurnakan di seluruh aspek, sehingga dari periode waktu yang sudah ditentukan akan memiliki tingkat kesiapan yang handal pada medan operasi. “Rencananya senapan mesin MAG-58M akan dipasang di empat helikopter TNI AL sejenis NBO-105”, kata Direnbang Puspenerbal.



View the Original article

Pindad Membutuhkan Tambahan Mesin Pembuat Munisi

on Tuesday, November 8, 2011

04 November 2011


Mesin pembuat munisi Pindad, pembeliannya harus melalui proses G to G untuk memastikan bahwa pembelian mesin bukan untuk ofensif (photo : Detik)

Pindad Butuh Mesin Pembuat Peluru

MALANG - PT Pindad sebagai pemasok utama munisi masih kekurangan mesin pembuat peluru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan mesin yang ada, Pindad hanya bisa memproduksi 120 juta butir peluru per tahun. Sebanyak 50 juta butir di antaranya untuk diekspor. Padahal, kebutuhan munisi di dalam negeri sebanyak 120 juta per tahun.

"Kita hanya dapat memenuhi sebanyak 70 juta butir peluru untuk kebutuhan dalam negeri. Jadi, masih kurang 50 juta butir peluru," kata Direktur Sistem Senjata PT Pindad, Irianto, di lokasi pembuatan peluru PT Pindad Divisi Munisi di Malang, Kamis (3/11).

Kendala lain, mesin yang ada sekarang sudah terlalu tua untuk memproduksi peluru secara maksimal. Mesin yang sebenarnya bisa memproduksi 7.200 peluru per jam, terpaksa diturunkan performanya menjadi 6.000 peluru per jam. Penurunan performa ini, menurut Irianto, agar kualitasnya bisa tetap terjaga. Mesin ini sudah berumur 20 tahun, sedangkan kemampuan maksimal mesin hanya 15 tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tambah dia, khususnya TNI dan Polri, PT Pindad meminta Kementerian Pertahanan menambah dua lini mesin lagi, yakni satu lini mesin untuk membuat peluru kaliber 5,56 milimeter dan satu lini mesin untuk membuat peluru kalibar 9 milimeter. Satu lini mesin bisa memproduksi sebanyak 30 juta butir peluru per tahun. Penambahan dua lini mesin ini diperkirakan bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Adapun harga untuk satu lini mesin adalah 150 miliar rupiah. Kalaupun disetujui, PT Pindad berharap pemerintah membeli mesin buatan Jerman karena kualitasnya dinilai paling bagus. "Kami bisa usahakan dalam lima tahun modal bisa kembali," kata Irianto.

Kondisi serupa juga dialami mesin munisi kaliber besar. Pindad belum bisa memproduksi besar karena keterbatasan mesin. "Investasi mesin munisi kaliber besar sangat mahal. Kemampuan anggaran pemerintah pun masih sangat terbatas," katanya. Namun, untuk soal desain, PT Pindad mengaku bisa mengikuti perkembangan munisi-munisi yang dibuat negara maju.

Rapat Evaluasi

Menanggapi keinginan PT Pindad ini, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen Hartind Asrin mengatakan Kemhan akan menindaklanjuti permintaan tersebut melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). "Setiap tiga bulan KKIP selalu melakukan rapat evaluasi. Salah satu tujuannya untuk mengetahui kekurangan setiap industri pertahanan," katanya.

Rapat tersebut, kata Hartind, akan selalu dihadiri produsen, pengguna, dan pemerintah. Di dalam unsur pemerintah juga selalu dihadirkan perwakilan dari Kementerian Keuangan agar bisa langsung menginformasikan kondisi keuangan negara untuk bidang pertahanan. "Kalau ternyata masih ada anggarannya, permintaan akan bisa langsung disetujui," ujarnya.

Di samping itu, Kemhan juga terus mendorong agar RUU Revitalisasi Industri Pertahanan bisa segera selesai agar sinergisitas antar-industri pertahanan bisa ditingkatkan. "Semoga pada 2012 ini bisa goal (disahkan)," kata Hartind.

Sementara itu, bahan baku peluru yang dibuat Pindad sebagian besar dari luar negeri, yakni dari Belgia, Korea Selatan, India, dan Taiwan. Korea Selatan dan Taiwan memasok propelan, sedangkan Taiwan memasok brasscup atau selongsong dan ujung peluru. Sisanya sebanyak 20 persen merupakan bahan baku dalam negeri, yakni timah dan kemasan."Kami terpaksa mengimpor mayoritas bahan baku dari luar karena industri hilir dalam negeri belum mampu memenuhi kualitas yang diinginkan," kata Irianto.Sementara itu, Kepala Divisi Munisi PT Pindad Untung Purnomo menambahkan setiap tahun PT Pindad mengimpor 500 ton brasscup yang bahan dasarnya adalah kuningan. Bahan dasar tersebut banyak ditemukan di Indonesia.

Pindad sebenarnya bisa membuat brasscup jika pemerintah mau berinvestasi untuk membangun pabriknya. "Negara maju umumnya punya pabrik propelan dan brasscup tersendiri, sedangkan Indonesia belum punya," katanya.

Untuk persoalan itu, Hartind menjelaskan, pemerintah sudah menyasar pembangunan industri komponen pendukung pabrik senjata nasional dengan bekerja sama dengan pihak swasta nasional. "Hal itu mungkin akan dibereskan dalam KKIP. Ke depan, pabriknya tersebut kalau bisa dibangun dan dioperasikan pihak swasta saja," jelas Hartind. nsf/P-3


Baca Juga :

Singapura dan Thailand Beli 9 Juta Munisi dari PT Pindad

03 November 2011

[MALANG] Singapura dan Thailand setiap tahun membeli munisi (peluru dan bom) di PT Pindad (Persero) yang berada di Turen, Malang, Jawa Timur. Masing-masing dua negara itu membeli sembilan juta butir peluru setiap tahun.

Demikian dikatakan Direktur Sistem Senjata PT Pindad di Turen, Irianto, kepada wartawan, di Turen, Malang, Kamis (3/11).

Menurut Irianto, dua negara tersebut di atas sebenarnya meminta munisi dalam jumlah besar setiap tahun namun karena PT Pindad mengutamakan kebutuhan dalam negeri sehingga permintaan dua negera itu dibatasi. "Kita utamakan kebutuhan TNI, Polri dan lembaga lain seperti Kementerian Kehakiman," kata dia.

Irianto mengatakan, kebutuhan munisi TNI seharusnya 120 juta butir peluru setiap tahun namun PT Pindad hanya memenuhi 70 juta butir peluru saja setiap tahun. Sedangkan Polri, kata dia, membutuhkan sekitar 40 juta butir peluru setiap tahun.

Mesin Sudah Tua

Menurut Irianto, beberapa permasalahan di PT Pindad antara lain mesin-mesin sudah tua, jadi perlu regenerasi mesin. Dengan mesin-mesin yang sudah tua ini, PT Pindad memproduksi peluru sebanyak 400.000 butir peluru per hari selain berbagai jenis bom. "Ukuran peluru antara lain 5,9 mm sampai 20 mm," kata dia.

Permasalahan selanjutnya, kata dia, bahan baku untuk munisi, sebesar 80 persen diimpor dari berbagai negara seperti Belgia, India, Thaiwan. "Kita belum bisa menghasilkan bahan baku yang berkualitas," kata dia.

Permasalahan lain, kata dia, jumlah sumber daya manusia yang kurang. "Namun sejak tahun lalu, kita sudah rekrut karyawan baru lagi," kata dia.

Irianto berharap, pemerintah dan semua rakyat Indonesia mendukung keberadaan dan keberlanjutan industri pertahanan. "Industri pertahanan merupakan pertahanan itu sendiri," kata dia.

Salah satu bentuk dukungan yang dibutuhkan, kata dia, adalah semua kebutuhan dalam negeri harus beli di PT Pindad. Selain itu, segera mengganti mesin-mesin PT Pindad yang sudah tua. "Mesin-mesin di sini ada yang dibuat tahun 1957, jadi perlu diganti," kata dia, seraya menambahkan satu buah mesin seharga Rp 150 miliar.

Ia menambahkan, semua mesin di PT Pindad diimpor dari Jerman. "Mesin-mesin dari Jerman, kuat dan tahan lama," kata dia. [E-8]




View the Original article