Showing posts with label Simulator. Show all posts
Showing posts with label Simulator. Show all posts

Kobangdikal Operasikan Simulator Baru

on Wednesday, September 26, 2012

25 September 2012


Naval Air Surface Subsurface Firing System simulator (photo : Data Dinamika)

Simulator Baru, Kobangdikal Gembleng Instruktur dan Operator

Tidak bisa dipungkiri bahwa Alutsista TNI AL yang Heavy Material dan Heavy Technologi,  Kobangdikal melalui Puslatlekdalsen senantiasa meningkatakan profesionalisme dan kemampuan instruktur dan operator yang dimiliki dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan alat simulator baru.

Untuk meningkatkan profesionalisme dan kemampuan prajurit di bidang alut sista, personil Puslatlekdalsen laksanakan pelatihan pengoperasian pesawat simulator baru di gedung Fatahilah Bumimoro Kobangdikal 

“Keberadaan alat simulator kapal yang ada di Puslatlekdalsen haruslah diawaki oleh personil  yang  benar-benar berkualitas dan kompeten, sehingga bisa menularkan ilmunya pada peserta didik secara benar,” terang Komandan Kobangdikal Laksda TNI Djoko Teguh Wahojo dalam amanat pada pembukaan pelatihan Naval Air Surface Subsurface Firing System yang dibacakan Komandan Puslatlekdalsen Kolonel Laut (P) Cakra Aria Wibawa di gedung Fatahilah, Kesatrian Bumimoro Kobangdikal, Selasa, (25/9).

Sebanyak 60 orang Perwira, Bintara, Tamtama dan Pegawai Negeri sipil (PNS) dari Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata (Puslatlekdalsen) Kobangdikal mengikuti pelatihan Naval Air Surface Firing Systim (pengoperasian prosedur penembakan anti udara), Naval Subsurface Firing Systim (pengoperasian prosedur penembakan senjata bawah air) dan Naval Surface Firing system (Pengoperasian prosedur penembakan Senjata Permukaan).

Menurut Dankobangdikal, Pelatihan yang diperuntukan bagi instruktur, operator dan Maintenece peralatan simulator itu, akan berlangsung selama tiga minggu kedepan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Komandan Puslatlekdalsen Letkol Laut (P) Ari Widiatmoko, para Kepala Departemen (Kadep) dan perwira staf dijajaran Puslatlekdalsen serta para instruktur

Dari jumlah 60 peserta tersebut terdiri  15 orang diantaranya adalah perwira pertama dengan pangkat Lettu  hingga Kapten, 32 orang Bintara, 12 orang tamtama dan satu orang Pegawai Negeri sipil (PNS).

Puslatlekdalsen sebagai salah satu Komando Pelaksana Kobangdikal, bertugas menyelenggarakan Latihsn Praktek dibidang elektronika kendali senjata yang meliputi alat indra, kendali senjata, alat navigasi, komunikasi dan alat kendali permesinan serta menyiapkan, menyelenggarakan dan mengevaluasi hasil latihan aplikasi taktik operasi laut.

Naval Air Surface Subsurface Firing System lanjut, merupakan simulator yang digunakan kapal corvet kelas Sigma untuk peperangan bawah air, permukaan maupun udara. Sistim ini menyediakan semua fasilitas kepada tim Koamando dalam penembakan diantaranya TPO SUT, MK 46, A-244 S untuk senjata Bawah Air, Harpoon, Exsoset, Meriam  120 MM, Meriam 76 MM, Yakont C 802 untuk senjata permukaan  dan Strellla untuk senjata udara.

Mengingat singkatnya waktu pelatihan, Komandan Kobangdikal berharap peserta pelatihan untuk senantiasa belajar dengan sungguh-sungguh  agar mampu menjadi instruktur bagi siswa Kobangdikal, operator dan maintenence yang handal sehingga proses belar mengajar dapat berjalan dengan baik,” pintanya.



View the Original article

TNI AU Ngebet Beli Simulator Sukhoi

on Sunday, April 8, 2012

07 April 2012


Negara yang dijajaki untuk pembelian simulator Sukhoi adalah : Rusia, China, dan Kanada (photo : Kaskus Militer)

Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan selain membeli Sukkoi sebanyak 6 unit dari Rusia, rencananya Indonesia juga membeli simulator jet tempur jenis medium tersebut di tahun ini. Pembelian simulator untuk menghemat pengeluaran operasional Sukhoi dan jaminan keselamatan pilot selama operasional.

"Setidaknya, dana yang harus dikeluarkan untuk 1 jam latihan Sukhoi mencapai Rp 500 juta," kata Sufaat kepada wartawan di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta, Sabtu (7/4).

Dengan pembelian simulator akan menekan angka pengeluaran operasional Sukhoi. Harga simulator berkisar 35 juta dolar AS.

"Harga simulator adalah setengah harga dari Sukhoi. Harga Sukhoi berkisar 50 hingga 60 juta dolar AS per unit," lanjutnya.

Hingga sekarang TNI AU masih belum menentukan pilihan akan membeli di negara mana. "Kami menjajaki, beli simulator dari Rusia, China, atau dari Kanada. Ada beberapa sumber dan kami akan cari yang terbaik, pertimbangannya adalah bahasa juga," terangnya.

Selain itu, pengadaan simulator Sukhoi juga solusi terbaik dalam mencetak pilot handal daripada mengirimkan pilot Indonesia belajar di luar negeri. "Kelemahannya mereka tahu kemampuan penerbang Indonesia," ucapnya serius.

Saat ini, TNI AU sudah memiliki beberapa simulator pesawat. Dua diantaranya adalah F16 dan Hercules.[has]




View the Original article

PTDI Bisnis Simulator Pesawat

on Friday, February 3, 2012

02 Februari 2012

Simulator helikopter Bell-412 (photo : Kaskus Militer)

JAKARTA - PT Dirgantara Indonesia (DI) mulai melakukan ekspansi bisnisnya dengan membuat simulator pesawat. Pengembangan tersebut tidak jauh bisnis utama perusahaan yaitu membuat pesawat dan komponen pesawat. Direktur Aircraft Service PT DI Rudi Wuraskito mengatakan, sudah ada beberapa unit simulator yang berhasil dibuat. Misalnya untuk pesawat jenis CN 235 dan Helikopter Super Puma. Tidak hanya itu, perusahaan yang dahulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) tersebut juga membuat simulator untuk kapal laut. "Ada 3-4 simulator yang sudah kita buat," ungkap Rudi.

Untuk 1 unit simulator CN 235, lanjut Rudi, dijual seharga USD 12 juta. Sementara simulator Super Puma harga jualnya tidak diketahui. Sebab, PT DI hanya salah satu pemasok komponen. Bukan kontraktor utama. Tapi, untuk 1 unitnya perusahaan yang berpusat di Bandung tersebut mendapatkan USD 3 juta. "Itu sebagian saja. Kita subkontraktor. Kontraktor utama di Kementerian Pertahanan," katanya.

Menurut Rudi, PT DI baru mau fokus menekuni bisnis simulator tersebut. Dulunya, perseroan tidak bisa melakukan ekspansi usaha karena diminta fokus membuat pesawat saja."Awal kita membuat simulator karena ada yang minta. Malaysia yang memiliki 8 pesawat CN 235 meminta dibuatkan simulatornya. Super Puma karena TNI Angkatan Udara butuh. Cuma kita sifatnya membantu. Ada main kontraktor," kata Rudi.

Ditegaskan Rudi, saat ini pihaknya belum bisa langsung bersaing dengan produsen simulator lainnya. Terutama dari sisi branding. Harus dibangun kepercayaan dengan konsumen terlebih dahulu. "Kita lakukan kerja sama dengan yang sudah branded. Sehingga lebih murah harganya," ucap Rudi.

Untuk membuat simulator, tambah Rudi, hal utama yang diperlukan adalah data base pesawat. Data perilaku pesawat pasti dimiliki pabrik. Hanya, untuk mendapatkan data base tersebut tidak mudah. Harganya pun sangat mahal, mencapai 20 persen dari total harga simulator. "Kalau harga simulator USD 10 juta, maka data basenya USD 2 juta. Kalau bikin sendiri pakai teknologi kita bisa saving 30-40 persen. Ada penghematan yang cukup banyak," katanya.

Dikatakan Rudi, dalam 4-5 tahun mendatang diharapkan PT DI sudah mampu bersaing dengan produsen simulator lainnya. Saat ini, perusahaan sedang merintis dari yang keculu. Jika langsung memulai dengan besar banyak yang tidak percaya. "Simulator banyak ke aplikasinya. Sejauh ini kita lihat produk karena pesawat terbangnya apa," ujarnya. (cdl)

(TribunNews)



View the Original article