Russia Reached an Agreement with Indonesia on a New Contract for Six Fighter Aircraft

on Friday, December 9, 2011

On the arrangements for signing the contract for the Su-30MK2 said a source who participated in the negotiations on Russia's part. "We have already met with Defense Minister Purnomo Yusgiantoro of Indonesia and Air Force Commander Air Marshal of the country Imam Sufaat detail verbalize questions about cooperation, but now we have reached a new level - the source says," and "Even before the new year we expect to sign the final contract to supply Indonesia six Sukhoi Su-30MK2. " He noted that they will meet for two aircraft plants - in Irkutsk and KNAAPO (for a uniform load of enterprises).

Disclose the contract value interviewee refused, citing the fact that Indonesia is still not fully decided on the types of weapons that must be installed on the fighters. However, the source, who participated in the negotiations on the part of Indonesia, said that the amount of the contract is "in no case less than $ 500 million." Will the new Su-30MK2 purchased for cash or on credit, the parties did not specify. Note that the previous delivery (for example, a contract for the delivery of Su-27SKM worth about $ 300 million) in Indonesia is carried out at the expense of Russia issued the loan.

"Regardless of what form will be paid for the six Su-30MK2, this is a big success for Russia - the director of the Center for Analysis of Strategies and Technologies Ruslan Pukhov .- Given the increased interest of America, Indonesia, offering to buy for the money used F- 16 aircraft, Indonesia would this deal with Russia to slow down. However, it did not, that is good news."

Earlier, Indonesia has received from Russia ten fighter brand "Sukhoi." Under the contract signed in September 2003, the Air Force Indonesia received two Su-30MK and two Su-27SKM. And in 2007, purchased six aircraft - three Su-27SKM and Su-30MK2 (their delivery was completed in September 2010). All in all, as stated in late September, Mr. Yusgiantoro, by 2024, "in order to protect the country's sovereignty Indonesia is going to buy 180 fighter jets, staffed by ten squadrons of aircraft."

Rosoboronexport yesterday from the official declined to comment.

(Kommersant)



View the Original article

Satuan Armed Memodernisasi Sistem Senjata

on Tuesday, December 6, 2011

05 Desember 2011

Beberapa Angkatan Darat negara-negara Eropa barat akan mengurangi arsenal M270 MLRS seiring dengan pengurangan anggaran pertahanannya. Kendaraan ini dapat menembakkan roket dengan jangkauan 42-300km. Belanda Italia, Jerman, Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya memakai peluncur roket multi laras berbobot 25 ton ini (photo : Wikia)

CIMAHI, (PRLM).- Satuan Artileri Medan (Armed) TNI AD segera memodernisasi Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) dengan mendatangkan meriam-meriam baru pada 2012 nanti. Seluruh prajurit Armed dituntut segera menguasai kecakapan penguasaan peralatan tempur baru tersebut.

Komandan Pusat Kesenjataan (Pussen) Armed Brigjen TNI Ariyadi Padmanegara mengungkapkan, modernisasi alutsista berupa penggantian meriam kaliber 76 milimeter (mm)/Gun menjadi meriam 105 mm. Juga direncanakan penyiapan Batalyon Armed untuk meriam kaliber 155 mm dan Batalyon Armed roket MLRS (multiple launcher rocket system).


“Sebagai konsekuensi logis modernisasi tersebut, seluruh prajurit Armed dituntut memiliki penguasaan kemampuan teknis kecabangan yang dipadukan dengan adaptasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Juga dibutuhkan tingkat kesiapan fisik memadai,” ucapnya saat memberikan sambutan dalam “Syukuran Hari Ulang Tahun ke-66 Armed TNI AD”, Senin (5/12), di Pusat Diklat Armed, Kota Cimahi.

Meriam baru kaliber 105 mm memiliki jangkauan hingga 18 kilometer. Spesifikasi ini jauh lebih canggih dibandingan alutsista lawas berupa meriam kaliber 76 mm yang hanya mampu menjangkau sasaran terjauh 8 kilometer. Meriam kaliber 155 mm bahkan lebih efektif lagi dalam medan perang karena mampu menjangkau sasaran hingga 40 kilometer.

Selain peremajaan alutsista, Ariyadi juga menyinggung kebijakan pembinaan personel yang tengah digodok oleh Mabes TNI AD, yakni sistem ‘career by design’. Dalam sistem ini, personel berkualitas akan terus dipantau dan diberi arahan dengan penugasan, jabatan, serta lingkungan kerja. “Tujuannya untuk mendorong perwira-perwira terpilih mencapai puncak karier tertinggi,” tuturnya. (A-165/A-88)***

(

Pikiran Rakyat)


View the Original article

Indonesia Ajukan Kerja Sama Industri Militer dengan Jerman

on Sunday, December 4, 2011

02 Desember 2011

Tank Leopard 2 produksi Jerman (photo : Militaryphotos)

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah Indonesia mengajukan permohonan kerja sama industri militer dengan Republik Jerman dalam jangka panjang. Kerja sama yang akan dibangun tersebut meliputi produksi bersama antara perusahaan Indonesia dengan Jerman. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan itu dalam Pernyataan Pers Bersama Presiden Jerman, Christian Wulff di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (1/12).

Presiden berharap agar Pemerintah Jerman bersedia meningkatkan kerja sama militer yang telah berlangsung selama ini tidak hanya penyediaan alat pertahanan, melainkan juga produksi bersama industri pertahanan. “Contohnya PT Dirgantara Indonesia sekarang ada kerja sama dengan Airbus Military. Saya usul kerja sama strategis dan dalam long term (jangka panjang), tidak hanya procurement, tapi juga joint production,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Atase Pertahanan Kedutaan Besar Indonesia di Jerman, Indonesia pernah membeli kapal selam dan vessels dari Jerman. Kerja sama latihan bersama yang telah dirintis sejak tahun 1972 sempat terhenti ketika tahun 1998 Indonesia diwarnai isu pelanggaran hak asasi manusia oleh militer. Namun, seiring reformasi militer yang terus berlangsung, Indonesia berharap kerjasama militer dengan Jerman kembali ditingkatkan.

Medio September lalu, Kementerian Pertahanan juga telah melakukan pembicaraan dengan produsen senjata Jerman, yaitu Rheinmetall di Berlin. Rombongan yang saat itu dipimpin oleh Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin itu mengobservasi produk meriam 155 mm serta menjajaki pembelian dan produksi bersama main battle tank TNI Angkatan Darat. Saat itu, Rheinmetall berkomitmen membantu modernisasi peralatan militer dan perlengkapan sumber daya manusia. Pada tahun 2012-2014 mendatang, TNI akan mendapat prioritas kredit dari kedua perusahaan tersebut.

Selain bidang militer, Presiden mengajukan empat bidang lain untuk ditingkatkan kerja samanya. Keempat bidang tersebut, yaitu investasi dan perdagangan, teknologi, pendidikan, riset dan inovasi. Dasar permohonan itu adalah karena Jerman sebagai negara yang sangat kuat di bidang teknologi sementara Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam dan kelas menengah yang sedang tumbuh. “Dari Indonesia mengusulkan beberapa agenda strategis yang bisa dilakukan karena Jerman negara kuat, dengan ekonomi terbesar di Eropa dan teknologi yang tinggi. Sedangkan Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN, punya resource yang besar dan peran internasional yang makin mengemuka. Dengan potensi kekuatan ini, kita bisa meningkatkan kerjasama strategis,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Wulff menyambut baik permohonan kerjasama dari Indonesia. Wulff yang datang untuk pertama kalinya ke Indonesia itu sangat mengapresiasi kebangkitan kembali Indonesia di Kawasan Asia. “Maka kami sangat tertarik untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara. Saya ucapkan terima kasih atas kerjasama dengan Indonesia selama 60 tahun menjalin kerjasama tanpa konflik. Kita menghadapi perayaan 60 tahun hubungan diplomatik yang baik dan dalam keluarga PBB, Indonesia terkenal sebagai negara yang berhasil ekonominya dan kaya sumber daya alam,” ujarnya.

Wulff juga mengaku sangat terkesan dengan Indonesia yang memiliki motto Bhineka Tunggal Ika sehingga memungkinkan penduduknya yang mayoritas beragama Islam namun memiliki tingkat toleransi tinggi sehingga orang hidup damai dan bebas memilih agamanya masing-masing. “Indonesia bisa jadi teladan untuk demokrasi di negara yang mayoritas Islam seperti negara di Afrika Utara dan Arab. Mereka harus memandang Indonesia untuk melihat bagaimana negara mayoritas Islam, berdemokrasi dengan pertumbuhan ekonomi, iklim transparansi,” katanya.

Untuk menindaklanjuti kerjasama antara kedua negara, Wulff menugaskan Kanselir Jerman Angela Markel untuk berkunjung ke Indonesia tahun depan. Rencananya, Markel akan didampingi pebisnis dan pengusaha Jerman. Saat ini, volume perdagangan antara Indonesia-Jerman mencapai 6 miliar USD, meningkat 22 persen dari tahun sebelumnya. Sementara, nilai investasi Jerman di Indonesia mencapai 300 juta USD dan akan ditargetkan akan ditingkatkan dua kali lipat pada tahun mendatang menyusul kedatangan Markel tersebut. (A-156/A-147)

(Pikiran Rakyat)


View the Original article

Indonesia Incar Tank Belanda

on

02 Desember 2011


Tank Leopard 2A6 milik Angkatan Darat Belanda (photo : moddb)

DEN HAAG (ANP) - Indonesia tertarik membeli tank tempur Leopard Belanda. Pihak-pihak terkait masih mempelajari apakah rencana akan berakhir pada sebuah kesepakatan.

Demikian pernyataan Menteri Pertahanan Belanda, Hans Hillen Rabu malam (30/11) dalam perdebatan di Parlemen mengenai anggaran kementeriannya tahun depan.

Kementerian Luar Negeri dan Urusan Ekonomi juga akan mengkaji perihal ini dan mengambil keputusan akhir. Mereka akan melihat apakah penjualan memenuhi syarat-syarat internasional yang berlaku, seperti penghormatan hak asasi manusia.

Juga akan dilihat apakah negara pembeli telah memenuhi kewajiban internasionalnya serta pada situasi politik dan kondisi keamanan yang sedang berlangsung di sana.

Menurut anggota parlemen dari partai Kiri Hijau (GroenLinks), Arjan El Fassed, berdasarkan daftar kriteria tersebut, dari sekarang sudah bisa disimpulkan bahwa Belanda tidak bisa menjual tank-tanknya ke Indonesia. Hillen menekankan bahwa ada kriteria penjualan yang tinggi dan Parlemen mengontrol ketat hal ini.

Partai Sosial Demokrat (PvdA) dan Partai Sosial (SP) sepakat dengan himbauan GroenLinks kepada pemerintah untuk tidak menjual tank ke Indonesia.

Kementerian Pertahanan telah memutuskan, tahun ini akan menjual keseluruhan 60 tank Leopardnya sebagai bagian dari langkah penghematan drastis.




View the Original article

Bell Helicopter Receives Orders from Indonesia

on Saturday, December 3, 2011

02 Desember 2011


Bell 412 of the Indonesian Army Aviation (photo : Detik)

FORT WORTH, TEXAS – Bell Helicopter, a Textron Inc. company (NYSE: TXT), announced today it has received five firm orders with two potential follow-on orders for Bell 412s from PT Dirgantara Indonesia (PTDI) for delivery to government agencies in Indonesia.

"Bell Helicopter has had a long partnership with PTDI in Indonesia," said Larry D. Roberts, senior vice president, Bell Helicopter’s Commercial Business.

“The sale of these helicopters is part of the framework of an ongoing industrial collaboration between our two companies," Roberts said. "We believe our partnership will continue to grow and possibly expand in the future."

The five Bell 412s are expected to be delivered to PTDI by the end of the year. PTDI will then transport them to Bandung, Indonesia, where local content and customer specific mission equipment will be added prior to PTDI making final delivery to end-users.

In 2010, Bell Helicopter announced plans to extend the capability and performance of the Bell 412EP through a series of upgrades which are expected to be available to customers in 2012.

"The Bell 412 has had tremendous success in the region. It is well-known throughout the world for its reliability and multi-mission capabilities. We are committed to continuing to invest in the Bell 412 and will evolve it based on customer feedback and mission requirements," Roberts said.

The upgrade program entails a Supplemental Type Certificate (STC) project that is intended to extend the wide range of missions that can be performed by the Bell 412EP consisting of an engine and flight deck upgrade, which will be available in 3-axis and 4-axis options.

The engine upgrade, in partnership with Pratt & Whitney Inc., is designed to provide a 15 percent engine SHP increase, improved OEI and hot/high performance and introduction of electronic engine control. The upgrade will yield a 10-12 percent increase in CAT A/PC1 & PC2 performance, increased hot/high capability and provides a path for a future upgrade for increased range and payload.

The flight deck upgrade will provide a modern glass flight deck – leveraging the well-received glass flight deck in the new Bell 429 – by utilizing hardware common to that aircraft, specifically display units. This will provide commonality in the cockpits of Bell Helicopter’s light twin and medium twin aircraft, simplifying pilot familiarity and maintenance training.

The planned engine and flight deck upgrades are in addition to an earlier Bell 412EP STC for the BLR FastFin™ System. The FastFin™ upgrade, certified by Transport Canada and the Federal Aviation Administration and available today, increases HOGE and HIGE performance limits and expands the lifting capacity of the Bell 412EP, providing more tail rotor reserve authority, improving hover stability, high/hot performance, crosswind capabilities, and payload, while reducing pilot workload and lowering operating costs through fuel savings.

Earlier this year, Bell Helicopter broke ground on a new Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) facility in Singapore's Seletar Aerospace Park dedicated to customer support and service for the Asia-Pacific region. The new facility, which Bell Helicopter will operate in partnership with Cessna, will replace and augment the existing Bell Helicopter Supply Center and strengthen the company's sales presence in the Asia Pacific region, as well as add parts distribution and maintenance capabilities for Cessna operators in the region.

"Bell Helicopter is focused on continually improving the customer experience and remains committed to transforming the model for commercial aviation aircraft support – finding innovative ways of supporting our customers around the world and leading the way in new and emerging markets," said R. Danny Maldonado, senior vice president, Bell Helicopter's Customer Support and Chief Services Officer.

"With more than 6,000 helicopters flying in more than 12 countries, Asia Pacific has the second largest fleet of aircraft in the world. Adding this new service center is one way we are demonstrating that commitment to our customers throughout the Asia Pacific region," Maldonado said.

The Bell 412 is backed by Bell Helicopter's industry-leading customer support and service that has earned it – voted by our customers – the #1 ranking in Professional Pilot magazine for 17 consecutive years as well as #1 in Aviation International News for a sixth consecutive time.




View the Original article

UGM Perkenalkan Mini UAV Berdaya Jelajah 200 Kilometer

on Friday, December 2, 2011

30 November 2011


Pesawat Udara Tanpa Awak Mini atau Mini UAV dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan bobot 7,5 kilogram mampu menjelajah sampai 200 kilometer dengan kecepatan 120 kilometer per jam, bermanfaat untuk pemantauan batas wilayah atau lokasi-lokasi bencana alam. (photo : Kompas)

Pesawat Tanpa Awak UGM Berdaya Jelajah 200 Kilometer

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk memantau batas wilayah atau situasi dan kondisi lokasi bencana alam dengan biaya murah dan efektif, dibutuhkan teknologi pesawat tanpa awak.

Universitas Gadjah Mada (UGM) turut memamerkan hasil risetnya, berupa pesawat udara tanpa awak mini (Mini UAV) pada Forum Riset Industri Indonesia ke-3 2011, Rabu (30/11/2011) di Jakarta.

Pesawat itu memiliki kemampuan jelajah sampai 200 kilometer, dengan lama jelajah sampai 2,5 jam.

Pesawat Mini UAV ini hasil rekayasa dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UGM, Sutrisno, dan Dosen Teknik Mesin pada Sekolah Vokasi (D-III) Teknik UGM, Setyawan Bekti Wibowo.
"Kita sudah punya banyak produk riset. Masalahnya sekarang adalah industrialisasinya untuk menjadikan sebagai produk massal masih terjadi kendala," kata Rektor UGM, Sudjarwadi, dalam konferensi pers.

Pesawat Mini UAV dirancang dengan panjang bentang sayap 3,25 meter, dan bobot pesawat tanpa beban mencapai 7,5 kilogram.

Penambahan beban seperti kamera dan sensor lainnya, masih memungkinkan maksimal dua kilogram. Kecepatan Mini UAV mencapai 120 kilometer per jam. Pesawat ini berbahan bakar bensin, dengan kapasitas mesin 55 sentimeter kubik.




View the Original article

11 Helikopter Seasprite untuk TNI AL Diproses Pengadaannya

on

01 Desember 2011



Heli Antikapal Selam Perkuat TNI AL

JAKARTA – Kekuatan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut akan bertambah menyusul proses pengadaan 11 unit helikopter antikapal selam, antikapal permukaan, serta dua pesawat patroli laut.


Tambahan alutsista itu akan mengisi kelemahan-kelemahan yang dimiliki kapal TNI AL. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengatakan, keberadaan pesawat sayap tetap maupun sayap putar (helikopter) penting bagi TNI AL, karena mereka merupakan kepanjangan “mata” dan “telinga” dari kapal TNI AL (KRI). Wilayah laut Indonesia yang luas, menurut dia, tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh KRI mengingat kekuatannya yang terbatas.

Karena itu, keberadaan tambahan dua unit maritime patrol aircraft (MPA) dan11 helikopter anti kapal selam Seasprite itu sangat penting untuk mengisi kekosongan yang tidak terkover kapal-kapal TNI. “Pesawat tentunya memiliki kelebihan di manuver, fleksibilitas, jangkauan yang luas, dan kemampuan deteksinya juga lebih cepat,” tegas Untung di Jakarta, kemarin. Dua unit MPA yang akan menambah kekuatan TNI AL yaitu pesawat CN-235 yang rencana sudah mulai diterima TNI AL pada 2013.

Selain radar deteksi, pesawat ini juga akan dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan penindakan. Adapun untuk helikopter Seasprite sejumlah satu skuadron itu, memiliki kemampuan penindakan yang lebih ampuh. Enam dari 11 helikopter dilengkapi dengan senjata antikapal selam, sisanya lima unit merupakan antikapal permukaan. “Rencananya pada 2012 pengadaannya,” ujarnya. Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, pengadaan CN-235 untuk MPA TNI AL masuk dalam prioritas alutsista TNI.

Rencananya, biaya pengadaan menggunakan alokasi dari pinjaman luar negeri sebesar USD60 juta, namun pemesanan di PT Dirgantara Indonesia. Sjafrie yang juga wakil menteri pertahanan itu menuturkan, dalam strategi pertahanan Indonesia, saat ini memang sedang dikembangkan penguatan di kawasan Indonesia bagian timur.




View the Original article

Awal 2012, Delapan Calon Awak Super Tucano A-29 Diberangkatkan ke Brazil

on Thursday, December 1, 2011

01 Desember 2011


Pesawat EMB-314/A-29 Super Tucano (photo : Jetphotos)

Malang - Delapan penerbang TNI AU dipersiapkan untuk mengawaki pesawat latih taktis Super Tucano A-29. UNtuk itu, delapan penerbang akan diberangkatkan ke Brasil, negara pembuat pesawat itu.

"Januari 2012, delapan penerbangan kita kirim ke Brazil, sebagai persiapan menjadi instruktur Super Tucano," jelas Kolonel (penerbang) Novyanto Widadi saat berbincang dengan detiksurabaya.com via telepon, Senin (29/11/2011).

Kepala Dinas Operasi Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Abdulracman Saleh ini mengungkapkan, pemberangkatan delapan calon instruktur itu menyusul rencana kedatangan empat unit pesawat Super Tucano menggantikan Skuadron OV-10F Bronco yang sudah di-grounded.

"Maret 2012, empat pesawat Super Tucano datang dari Brazil kesini (Lanud Abd Saleh,red), karena itu instruktur perlu disiapkan," ungkap Novyanto.

Ia menambahkan, keberangkatan delapan penerbang itu bersamaan dengan personel lain, untuk melengkapi sumber daya manusia pesawat Super Tucano yang mendirikan skuadron sendiri. "Selain calon instruktur juga personel lain jumlahnya sekitar 80 orang, sebagai teknisi dari pesawat itu," beber Novyanto.

Sementara dari delapan penerbang itu, lanjut Novyanto, pangkalan TNI AU Avd Saleh hanya menyumbang empat penerbang. Sisanya diambilkan dari pangkalan TNI AU di seluruh Indonesia. "Dari kita hanya empat orang," sambung Novyanto.

Menurut dia, kehadiran empat pesawat pada Maret 2012 mendatang akan disusul kembali empat pesawat berikutnya setelah enam bulan kemudian.

Pengiriman bertahap itu terus dilakukan hingga pesawat genap berjumlah 16 unit. "Pengiriman bertahap setiap enam bulan, sebanyak empat pesawat," kata Novyanto.




View the Original article