TNI AL Tambah Tiga Heli Bell 412EP

on Wednesday, June 13, 2012

13 Juni 2012

Helikopter Bell 412 TNI AL (photo : Kaskus Militer)

Tiga Heli Bell Perkuat Puspenerbal

SIDOARJO, KOMPAS.com - Tiga helikopter jenis Bell-412 EP memperkuat jajaran Pusat Penerbangan Angkatan Laut, Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/6/2012). Helikopter ini akan difungsikan sebagai angkutan taktis dan dukungan logistik cepat.

"Helikopter ini akan memperkuat Skuadron 400 Wing Udara 1 dan Wing Udara 2," kata Komandan Puspenerbal, Laksamana Utama TNI Sugianto. Tiga helikopter tersebut diproduksi oleh Textron Kanada dan disempurnakan oleh PT Dirgantara.

Ketiga helikopter ini, kata Sugianto, memiliki kelebihan, yaitu antara lain sistem pilot otomatis. "Fitur ini penting karena terbang di atas laut lebih sulit," kata Sugianto.


Baca Juga :

Lanudal Juanda Tambah Tiga Heli
12 Juni 2012

SURYA Online, SURABAYA - Tiga Helikopter Bell 412 akan memperkuat jajaran TNI AL. Helikopter ditempatkan di Skuadron 400 Puspenerbal Juanda. "Tiga unit Helikopter ini akan datang besok siang di Shelter Suadron 400," jelas Kasi Renbang Puspenerbal Mayor Martin Daw, Senin (11/6/2012).

Menurutnya, helikopter itu merupakan helikopter pengangkut untuk pendaratan pasukan. Helikopter ini memiliki kemampuan angkut 10-15 personel serta mampu mengangkut beban sekitar tiga ton.

Meski berfungsi sebagai helikopter angkut militer, alutsista ini dapat dipersenjatai dengan senapan mesin untuk mendukung kegiatan operasi militer.

Helikopter ini juga merupakan helikopter generasi terakhir yang masuk jajaran Skuadron 400 Puspenerbal. Masuknya capung besi Bell 412 ini melengkapi jajaran pesawat udara di Puspenerbal menjadi 62 unit.

(Surya)

View the Original article

KRI Nanggala akan Uji Coba Penembakan Torpedo

on Tuesday, June 12, 2012

11 Juni 2012

KRI Nanggala 402 setelah menjalani upgrade di DSME Korea Selatan (photo : Kaskus Militer)

Satsel Koarmatim Akan Menggelar Uji Coba Senjata Strategis

Satuan Kapal Selam (Satsel) Koarmatim akan menggelar Uji Coba (Ucob) senjata startegis di sekitar perairan Laut Jawa dalam waktu dekat. Rencana tersebut kini dimatangkan pembahasanya  dalam Tactical Floor Game (TFG) bertempat di ruang rapat Satsel Koararmatim Ujung Surabaya, Senin (11/06).

Dalam rapat pematangan rencana itu dipimpin langsung oleh Komandan Satsel Koarmatim Kolonel Laut (P) Jefry Staley Sangel. SH., dengan dihadiri oleh Komandan KRI Nanggala-402 Letkol Laut (P) Purwanto, KRI Hiu-804 Letkol Laut (P) Bagus. H, Komandan KRI Soputan-921 Mayor Laut (P) Herby serta para tim pendukung yang terlibat dalam kegiatan itu.

Uji coba persenjataan strategis berupa Torpedo SUT DM264 Mod 0 rencananya akan dilaksanakan oleh KRI Nanggala yang baru selesai melaksanakan perbaikan total (Overhaul) di Korea Selatan beberapa bulan yang lalu. Senjata Torpedo yang akan ditembakkan merupakan jenis kepala latihan.

Combat Management System MSI-90U MK2 buatan Kongberg Norwegia (photo : Armatim)


Dalam uji coba penembakan itu bertujuan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan integrasi antara Combat Management System (CMS) type Multi Sensor Integrited (MSI) 90U MK2 dengan Torpedo SUT DM264 Mod 0 buatan Kongsberg Defence and Aerospace Norwegia. Yang mana sistem CMS MSI tersebut merupakan pengganti sistem lama yaitu CMS jenis Sinbads. Penembakan ini sekaligus untuk menguji alat pengganti terebut apakah dapat berfungsi  sesuai dengan yang diharapkan.

Unsur yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Penembakan Torpedo SUT Kepala Latihan tahun 2012, terdiri dari KRI Sultan Iskandar Muda-367, KRI Hiu-804, KRI Soputan-921, 2 Sea Rder, 2 Perahu Karet (PK), 1 Tim Komando Pasukan Katak (Kopaska) Koarmatim, 1 Tim Penelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmatim, Laboratorium Induk Elektronika (Labinlek) Mabesal dan Arsenal serta Diskes koarmatim.



View the Original article

Paramount Group Jajaki Kerjasama dengan PT Pindad dan PT DI

on Monday, June 11, 2012

09 Juni 2012

Paramount Group dan PT. Dirgantara Indonesia telah sepakat untuk melakukan rancang bangun dan produksi bersama pesawat tanpa awak (UAV)  yang diperlukan untuk pengintaian wilayah perbatasan. Pengembangan UAV sedang marak di Afrika Selatan, perusahaan lain yang juga mengembangkan UAV untuk keperluan militer adalah ATE dan Denel (photo : ATE)

Afrika Selatan Terus Jajagi Kerjasama Industri Strategis Dengan Indonesia

Untuk kedua kalinya misi usaha Afrika Selatan yang bergerak dibidang industri berteknologi tinggi melakukan kunjungan ke Bandung pada tanggal 5-6 Juni 2012 guna menjajagi kerjasama teknologi dan industri strategis dengan Indonesia dibidang kemiliteran dan kedirgantaraan (misi sebelumnya dilakukan oleh perusahaan Denel corp ditahun 2011).

Misi usaha ini memiliki arti penting serta memberikan bobot tersendiri untuk kemajuan kerjasama RI - Afrika Selatan dibidang Iptek.

Paramount Group adalah salah satu perusahaan industri alusista termaju di kawasan Afrika yang cukup dikenal karena memiliki keunggulan teknologi dibidang pertahan dan kedirgantaraan. Dalam kunjungannya ke Bandung, Paramount Group telah mengadakan pertemuan dengan PT. Pindad dan PT. Dirgantara untuk menjajagi pembentukan kerjasama industri strategis.

Dari pertemuan dengan PT. Pindad, telah dicapai keinginan bersama dari kedua pihak untuk melakukan kerjasama dalam pembentukan joint production dan pengembangan produk peralatan kendaraan militer anti teroris.

Paramount dan PT. Pindad telah ada keinginan bersama untuk melakukan kerjasama dalam pengembangan dan joint production kendaraan militer anti teroris. (photo : Paramount)

Dalam hal ini, pihak paramount bersedia untuk memberikan bantuan teknik berupa peralatan dan tenaga ahli, sekaligus pendanaan produksi. Sementara pertemuannya dengan PT. Dirgantara Indonesia, telah dihasilkan suatu kegiatan bersama kedua pihak untuk melakukan rancang bangun produksi bersama unmanned aerial vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak yang di perlukan untuk pengintaian wilayah perbatasan. Jika berhasil, produk UAV nantinya akan dipasarkan untuk kawasan asia tenggara dimana Indonesia menjadi basis produksi dan pemasaran di kawasan.

Paramount juga menyepakati untuk kerjasama memberikan jasa maintenance bagi semua produk industri strategis yang dihasilkan dari kedua perusahaan Indonesiatersebut.

Dapat ditambahkan bahwa pertemuan di PT. Pindad Bandung delegasi Paramount Group yang dipimpin oleh Mr. Jhon Craig (Director of Enginerring Development) telah diterima oleh DR. Ade Bagja (Kabid senjata PT. Pindad) yang didampingi oleh sejumlah pejabat PT. Pindad terkait, sementara itu pada waktu pertemuan di PT. Dirgantara Indonesia, delegasi tersebut diterima oleh saudara Ditta Andoni Jafri (Direktur Pengembangan Produksi) yang juga didampingi pejabat PT Dirgantara terkait, dan dari unsur kemlu ikut mendampingi adalah pejabat dari Dit Afrika, dan pejabat fungsi ekonomi KBRI Pretoria.

Menurut rencana delegasi Paramounttersebut a.l juga akan melakukan pertemuan di kementrian perdagangan, kementrian industri, istansi keamanan dan pertahanan serta kunjungan kehormatan di Kemlu RI, dan kembali ke Afsel tanggal 12 Juni 2012.

(Kemlu)

View the Original article

Marinir AS dan Indonesia Selenggarakan Latihan CARAT 2012

on Thursday, June 7, 2012

06 Juni 2012

Latihan CARAT 2012 di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur (all photos : Antara, US Pacific Fleet)


Marinir AS-Indonesia "Serbu" Banongan Hanya 45 Menit

Banongan, Situbondo - Lebih dari seribu prajurit Korps Marinir Indonesia dan Marinir Amerika Serikat mampu "menyerbu" Pantai Banongan, Situbondo, Selasa siang, untuk melumpuhkan "musuh" yang "menduduki" pantai hanya dalam waktu 45 menit.

Wartawan ANTARA di Banongan melaporkan, penyerbuan empat titik lokasi "musuh" itu merupakan bagian dari Latihan Bersama antara TNI Angkatan Laut dengan Angkatan Laut AS dari jajaran "US Pacific Command" (USPaCom) yang bersandi "Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) 2012".

Dalam latihan yang disaksikan Komandan Gugus 73.1 Rear Admiral atau R.Adm (Laksamana Muda) Tom Carney dan Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, itu diawali dengan tembakan meriam ke arah pantai yang dilakukan kapal perang AS pada pukul 10.25 WIB.



Setelah dentuman meriam yang cukup mengagetkan itu, 13 tank serbu amfibi atau amphibious assault vechicle (AAV) milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang keluar dari "mulut" kapal USS Germantown LSD-42 tampak melakukan pendaratan.

Sementara itu, empat panser BTR-50 milik TNI AL yang keluar dari "mulut" KRI Banda Aceh - 593 pun mendarat dan bergerak di sektor kanan, sedangkan tank amfibi AS bergerak ke sektor kiri dengan mengeluarkan asap untuk penyamaran.

Ratusan prajurit yang keluar dari tank panser langsung turun dan bersembunyi di balik rerumputan dan pepohonan kelapa untuk menyerang titik sasaran 1 dan 2, sedangkan ratusan prajurit Marinir AS menyerbu titik sasaran 3 dan 4.


Penyerbuan titik sasaran itu dilakukan secara kerja sama antara prajurit Marinir AS dan Indonesia, karena keempat sasaran itu diserbu dengan saling membantu "musuh" mampu diusir pada pukul 11.10 WIB.

"Operasi amfibi adalah oeprasi yang paling sulit di dunia, karena operasi itu membutuhkan koordinasi yang baik antara pasukan di darat dan di laut," kata Komandan Gugus 73.1 Rear Admiral atau R.Adm (Laksamana Muda) Tom Carney, didampingi Komandan Satgas CARAT 2012 dari AS, Capt David A Welch.



Oleh karena itu, ia mengaku sangat beruntung dapat melakukan latihan bersama dengan TNI AL dalam CARAT 2012, karena latihan semacam ini sangat dibutuhkan. "Yang jelas, ke depan, kami akan meningkatkan kerja sama," katanya.

Senada dengan itu, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono juga mengaku senang dapat melakukan latihan bersama, karena latihan bersama itu dapat menjadi ajang tukar pengalaman, apalagi Amerika merupakan negara maju yang memiliki teknologi modern.



"Bagi kami, latihan itu sendiri dapat meningkatkan ketrampilan anggota," katanya, didampingi Danpasmar-1 Brigjen TNI Mar Tommy Natanegara dan Komandan Satgas CARAT 2012 dari Indonesia, Kol Laut (P) Rahmat Eko Rahardjo.

Latihan bersama yang berlangsung sejak 30 Mei hingga 7 Juni itu juga diwarnai dengan kolaborasi musik pentas antara Koprs Marinir Indonesia dan AS pada sejumlah SMA di Surabaya, bakti sosial kepada masyarakat Bangkalan, Madura, serta pra-latihan.(*)


View the Original article

Kemhan RI Tandatangani Kontrak Pengadaan 1 Unit Kapal PKR 10514

on Wednesday, June 6, 2012

05 Juni 2012


Kapal PKR10514 rancangan Damen Schelde (all photos : Defense Studies)

Jakarta - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) melalui Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) secara resmi menandatangani kontrak pengadaan 1 unit  Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda.

Kontrak ditandatangani oleh Kepala Baranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo yang mewakili Kemhan RI dengan Director Naval Sale of DSNS Evert van den Broek yang dalam hal ini mewakili pihak DSNS, Selasa (5/6) di kantor Kemhan, Jakarta. Hadir dan menyaksikan acara penandatangan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AL. Hadir pula Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan dan Direktur Utama PT.PAL Indonesia (Persero) Ir M Firmansyah Arfin.

Pengadaan Kapal PKR 10514 ini dalam rangka untuk memperkuat Alutsista di jajaran TNI AL guna mendukung tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.  Disamping digunakan untuk tugas – tugas  tempur, Kapal PKR 10514 ini juga diperlukan untuk memberikan deterrent effect (efek gentar)  terhadap pihak manapun yang akan mencoba mengganggu kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.



Kabaranahan Kemhan RI  mengatakan,  dalam pembangunan Kapal PKR 10514 ini, Damen Schelde Naval Shipbuilding melakukan joint production (kerjasama produksi) dengan PT. PAL Indonesia (Persero) selaku industri pertahanan dalam negeri.  Damen Schelde Naval Shipbuilding telah memutuskan untuk memberikan Transfer of Technology (ToT) dalam konstruksi desain dan pembangunan Kapal PKR 10514 kepada PT. PAL Indonesia (Persero).

Rencananya, Kapal PKR 10514  ini akan dibangun di tiga tempat antara lain PT. PAL Indonesia (Persero), Vlisingen dan Galatz. Terakhir Kapal PKR 10514 akan dirakit di PT.PAL Indonesia (Persero). Diharapkan, Kapal PKR 10514  ini sudah selesai dan diserahterimakan pada awal  tahun 2017.

Lebih lanjut Kabaranahan mengatakan,  ini adalah awal yang baik dari industri pertahanan dalam negeri khususnya  PT. PAL Indonesia (Persero) dalam mengembangkan kemandirian di bidang Alutsista.  Hal Ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemhan RI melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang akan melaksanakan rencana induk revitalisasi industri pertahanan dalam rangka mendorong dan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.

Sementara itu, guna mendukung pengadaan Kapal PKR 10514 ini,  Kabaranahan Kemhan RI mengungkapkan pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran kredit eksport dengan alokasi multiyears dengan jumlah 220 juta dolar AS.


(DMC)






View the Original article

SBY Janji Perkuat Pertahanan Pulau Nipah

on Tuesday, June 5, 2012

03 Juni 2012

Pulau Nipah yang berdekatan dengan Singapura (image : Bakosurtanal)

BATAM: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan akan memadukan pengembangan Pulau Nipah sebagai gugus depan pertahanan dan daerah kegiatan ekonomi.

Kepala Negara juga sudah menyetujui pembentukan batalion tempur baru yang bermarkas di daerah itu untuk melaksanakan tugas pertahanan dan pengawasan di wilayah pulau terluar.

Hal itu disampaikan Presiden Yudhoyono saat berkunjung ke pulau batas terluar NKRI seluas 62 hektare tersebut hari ini.

Presiden dan rombongan berangkat langsung dari Singapura dengan menggunakan KRI Diponegoro-365 menuju Pulau Nipah, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (2/6) pukul 16.00 WIB.

Setibanya di Pulau Nipah, SBY dan Ibu Ani disambut Korps Marinir TNI AL dan Satuan Tugas Pengamanan Pulau Nipah, setelah itu melaksanakan peninjauan pulau dan barak Satgas Pulau Terluar Nipah.

Turut mendampingi Kepala Negara, a.l Menkopolhukam Djoko Suyanto, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Menteri Perikanan dan Kelautan Sharif C. Sutardjo, dan Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tanjung.

"Saya setuju dibentuk batalyon baru di sini," kata SBY. Sabtu, 2 Juni 2012.

Saat ini, lanjut Presiden, sudah ada satuan Marinir dan satuan Angkatan Darat dengan komposisi kurang lebih dua pertiga Marinir dan sepertiga Angkatan Darat, yang tentu melaksanakan tugas-tugas pos depan tempur.

SBY menambahkan keberadan batalion baru itu akan bisa turut menjaga keamanan di Selat Malaka dan Selat Singapura di bagian wilayah NKRI.

Hal itu, tuturnya, sekaligus ikut dalam menghadapi kejahatan transnasional bersama-sama dengan Kepolisian dan penegak hukum yang lain.

Terkait pengembangan potensi ekonomi Pulau Nipah, Menteri Kelautan dan Perikanan sudah merencanakan pengembangan ekonomi berbasis perikanan dan kelautan.

Dengan begitu, menurut Presiden, di samping berfungsi sebagai pos depan pertahanan, juga ada kegiatan ekonomi yang menumbuhkan pembangunan di pulau tersebut.

"Mengingat kawasan kita ini Batam, Bintan, Karimun, Singapura, dan Johor adalah kawasan ekonomi dan usaha, kita ingin memanfaatkan letak yang strategis ini untuk kepentingan ekonomi kita," tutur SBY. (ra).



View the Original article

Indonesia Akan Orbitkan Satelit Bikinan Sendiri

on

05 Juni 2012

Satelit Lapan A2, 100% buatan Indonesia (photo : Lapan)

Indonesia Akan Terbitkan Satelit Baru 

TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Soewarto Hardhienta mengatakan LAPAN akan mengorbitkan satu satelit bikinan Indonesia pada Agustus mendatang.

“Itu satelit seluruhnya bikinan Indonesia,” kata Soewanto di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin siang, 4 Juni 2012.

Satelit yang akan diorbitkan itu diberi nama LAPAN-A2. Ia mengatakan LAPAN menyertakan tiga perangkat utama dalam satelit tersebut. Perangkat pertama adalah pemotret Bumi. Nantinya Indonesia bisa memotret Bumi dari angkasa dengan satelit tersebut.

Perangkat kedua adalah pembaca sinyal kapal. Dengan perangkat tersebut, pemerintah bisa mengetahui setiap kapal besar yang memasuki wilayah perairan Indonesia. “Kapal secara otomatis mengirim sinyal yang akan ditangkap satelit,” kata Soewarto.

Kapal-kapal yang mampu dilacak oleh satelit itu umumnya adalah kapal besar. Satelit belum bisa menangkap keberadaan kapal nelayan kecil yang umumnya terbuat dari kayu. “Selama ada pengirim sinyal, bisa dilacak,” katanya.

Perangkat ketiga adalah penunjang komunikasi radio amatir. Perangkat tersebut akan sangat berguna bagi proses penanggulangan bencana. Ini untuk menjamin alat komunikasi radio amatir tetap menyala dalam situasi genting. “Kalau saat bencana, umumnya alat komunikasi konvensional mati,” ujarnya.

Satelit tersebut akan diorbitkan menggunakan sebuah roket peluncur satelit dari India. Soewarto mengatakan Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur satelit, sehingga pengorbitan satelit dilakukan di India.



View the Original article

China Tawarkan Radar Maritim ke Indonesia

on Sunday, June 3, 2012

02 Juni 2012


Sistem monitor radar IMSS (photo : Antara)


LONDON, KOMPAS.com- China dikabarkan menawarkan pemasangan sistem pengawas maritim senilai 1 miliar yuan (sekitar Rp 1,5 triliun) di kawasan Indonesia. Nantinya, sistem tersebut akan melengkapi sistem serupa buatan AS yang lebih dulu dipasang di Indonesia.


Demikian diungkapkan majalah pertahanan terkemuka IHS Jane's Defence Weekly (JDW) edisi 16 Mei 2012 yang mengutip berbagai sumber. Menurut JDW, tawaran tersebut disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Beijing, akhir Maret.

Detail sistem pengawas maritim yang ditawarkan China itu belum diketahui. Namun, JDW menduga sistem tersebut akan terdiri atas jaringan radar yang ditempatkan di Pulau Lombok, Selat Sunda, Kalimantan Barat, dan pantai barat daya Sulawesi. Nantinya, data pengamatan yang diperoleh dari sistem ini akan dibagi dengan China.

Dengan sistem ini, Beijing akan mendapat keuntungan berupa data kondisi perairan di Selat Sunda, Selat Karimata, dan Selat Makassar, yang menjadi titik-titik penyempitan penting di jalur komunikasi laut (SLOC).

Tawaran China itu diberikan hanya beberapa bulan setelah pemerintah AS menyumbangkan Sistem Pengawasan Maritim Terpadu (IMSS) senilai 57 juta dollar AS (Rp543,9 miliar) kepada TNI Angkatan Laut. Menurut pernyataan Departemen Luar Negeri AS, IMSS terdiri atas jaringan sensor terpadu yang dipasang di darat maupun di kapal-kapal perang Indonesia, berbagai peralatan komunikasi dan perangkat komputasi untuk mengumpulkan, mengirim, dan menganalisa berbagai data maritim.

Secara konkret, IMSS terdiri atas 18 stasiun pengawas pantai (CSS), 11 radar berbasis kapal, dua pusat komando regional, dan dua pusat komando armada di Jakarta dan Surabaya. Pemerintah AS juga telah mengalokasikan dana tambahan sebesar 4,6 juta dollar untuk merawat sistem tersebut sampai tahun 2014.

Meski demikian, sumber-sumber JDW mengatakan, bahkan dengan tambahan alokasi dana dari AS ini, IMSS masih terlalu mahal untuk dioperasikan oleh TNI AL dan belum terintegrasi secara menyeluruh.

Dengan adanya tawaran dari China ini, China akan memiliki sistem tandingan strategis terhadap IMSS, dan memungkinkan negara itu memantau pergerakan kapal-kapal AS dan lalu lintas laut lainnya di perairan Indonesia.


(Kompas)

View the Original article