Launching of New 63 m Carbon Fibre Trimaran for the Indonesian Navy

on Thursday, September 6, 2012

03 September 2012


KRI Klewang 625 (all photos : North Sea Boats)

At 12.00 hours on Friday, the 31st of August, 2012, North Sea Boats Ltd successfully launched one of the most innovative warships in the world into the straits between East Java and Bali, at Banyuwangi, in the Republic of Indonesia.

Measuring 63m in overall length, the vessel will he named KRI Klewang - after a traditional Indonesian single edged sword. It combines a number of existing advanced technologies into a single, unique platform; a wave-piercer trimaran hull form, constructed exclusively of infused vinylester carbon fibre cored sandwich materials for all structural elements, with external "Stealth" geometry and features intended to reduce detection.

The result of a 24 month research, design and development collaboration with New Zealand naval architects, LOMOcean Design Ltd, the ship represents a significant step forward in the use of advanced warship building technologies in countries outside of Europe and the United States.

Offering stability and shallow draft, the vessel is designed for patrolling the littorals. The hull shape is intended to permit high speeds to be maintained and thus maximize crew operational capability in the short, steep seas characteristic of the coastline around the Indonesian Archipelago. The design borrows elements from previous trimarans from the same designer, including the 24m Earthrace (later Ady Gil), holder of the record for the fastest circumnavigation of the globe by a power boat.

The underwater sections have been optimized for extended range at fast patrol speeds; the length, transverse and longitudinal positions and immersion of each of the three hulls have been carefully tailored for least resistance using both slender body analysis and towing tank testing. Powering and propulsion is courtesty of multiple MAN V12 diesel engines, coupled to MJP 550 water jets, located in both the centre hull and each of the two side hulls for maximum propulsive thrust and manoeuverability.



The use of carbon foam sandwich composites on this scale in naval application is unprecedented outside or Scandinavia and is representative of the current state of the art in both maritime composites structural engineering and production technology.

The structural design was subject to third party approval by Germanischer Lloyd in Hamburg, using design and approval methodologies tailored specifically for the unusual geometry of a large, wave-piercing trimaran. The construction medium offers multiple benefits, including reduced weight (laminated carbon fibre has a density nearly half that of aluminium alloys), reduced maintenance (carbon composites cannot corrode and exhibit extremely high fatigue limits), tailorability of radar cross section (true flat panel geometry can be attained due to no distortion during assembly), extremely high geometrical accuracy (permits as-built hull shape to remain faithful to theoretical optimums), nil magnetic signature, reduced thermal and acoustic signatures etc.

Production engineering methodologies were selected and tailored to the local labour environment, with emphasis placed on the use of advanced manufacturing techniques and a combination of excellent training and robust systems guaranteed to offer high part quality, repeatability and geometrical accuracy. The use of infusion technology in particular offers high level of  confidence in the quality and consistency of fiber wet out, high resin to fiber ratios, low void content and excellent bond quality between skins and core as well as at core joints.

Traditionally, achieving high levels of quality in composite construction on a large scale has been problematical without a highly skilled, specialist workforce. The high volume, vacuum infusion systems introduced by North Sea Boats almost completely mitigates such risks and offers high confidence in the integrity of the structures involved. The flat, facetted panel geometry of the ship lends itself well to high volume production systems, minimizing tooling costs. And advances In numerically controlled milling machine technology also create extremely high levels of assembled part accuracy.



Accommodation is provided for a complement of twenty nine (officers and crew) on three internal decks (including bridge and combat control centre), with facilities and equipment also provided for deployment of special forces troops, including an 11 m high speed 50 knot RIB, also manufactured and supplied by North Sea Boats.

Trimarans offer very stable weapons platforms, and can carry various Missile systems; including Type 705 (up to 8), RBS15, Penguin or Exocet, and 40-57mm Naval Guns, or a CIWS (Close In Weapon System). These can be mounted high on the superstructure, giving better range and firing arc. Sensors can also be installed high up without concerns for stability. This first ship will carry a turn-key system delivered by CSOC and CPMIEC China, including rapid fire CIWS, combat control and missile systems. The exact configuration of this system is still classified.

Completion will take place after launching, and extensive sea trials and tests will commence in October. KRI KLEWANG is expected to be fully operational 2013.

VESSEL FEATURES
-  Highly seaworthy and stable weapons platform
-  Concealed missiles, naval gun and small arms
-  High strength, lightweight, carbon composite construction 
-  Minimal draft for inshore and shallow water operations
-  Capable of high average speeds in adverse weather 
-  Long range capability with low crew requirement
-  Stealth design with low detection signatures
-  Special Ops unit & 11 m high-speed RHIB

GENERAL SPECIFICATION
Length Over All : 63.0   meter
Length of Waterline : 61.0 meter
Beam Overall           : 16.0   meter
Water Draft              :   1.2 meter
Sprint Speed           :   30+ knots
Range                      : 2000+ nm
Fuel Capacity          : 50,000 litres
Main Engines          : 4 x MAN Marine Diesels

(North Sea Boats)

View the Original article

TNI AD Tambah Batalyon Tank dan Roket

on

04 September 2012

Angkatan Darat segera dilengkapi dengan artileri 155mm Caesar, sistem roket multi laras Astros II, dan tank tempur utama LeopaRD 2 (all photos : Militaryphotos)

Liputan6.com, Palembang: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, anggaran latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat pada 2012 mengalami kenaikan 157 persen dibandingkan tahun 2011.


Oleh karena itu, pihaknya pada 5 Oktober 2012 juga akan menambah jumlah peralatan tempur berupa roket, meriam dan tank, kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Senin (3/9).

Kasad yang tengah melihat dari dekat Latihan Tempur Antar-Cabang TNI AD di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD Ogan Komering Ulu ini menyatakan, dengan adanya penambahan peralatan itu, maka pihaknya mulai tahun ini akan menghidupkan kembali dua Bataliyon Tank, dua Batalyon Roket dan dua Batalyon Meriam di seluruh Artileri Medan (Armed).


Sementara, Komandan Brigif 92 Kostrad Letkol Inf Suparlan secara terpisah menjelaskan, latihan tempur tersebut perencanaannya sudah dilakukan sejak dua hari lalu untuk memaksimalkan seluruh persenjataan yang dimiliki TNI AD. Mengenai senjata berat selama latihan tempur itu, Ia mengatakan bahwa telah meluncurkan 140 hingga 200 unit roket, 200 unit meriam, 16 unit tank scorpion, kendaraan tempur anoa dan 3.000 personil untuk memukul mundur musuh.

Sementara di Palembang, Senin malam KSAD mengadakan ramah tamah dengan Gubernur H Alex Noerdin beserta jajaran pejabat di lingkungan Pemprov Sumatera Selatan. (Ant/ARI)


View the Original article

Kapal Perang Ex Brunei Tiba 2013

on

05 September 2012

Tiga kapal Nakhoda Ragam class buatan BAE Systems (photo : Militaryphotos)

JAKARTA– Program pengadaan kapal perang jenis fregat dari Brunei Darussalam diperkirakan mulai terealisasi tahun depan. Rencana pembelian itu sempat ditentang kalangan DPR karena kualitas kapal diragukan.

Meski demikian, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno memastikan bahwa kondisi kapal perang itu dalam kondisi sempurna.Tiga unit kapal buatan Inggris tersebut akan datang bertahap mulai 2013 hingga 2014. KSAL menilai Indonesiasangat beruntung mendapatkan tiga unit kapal itu. Pasalnya, kapal yang sudah dipersenjatai lengkap itu dibeli dengan harga murah.

“Hanya mengeluarkan USD380 juta untuk tiga unit.Brunei saja membeli kapal tersebut dengan harga satuan sebesar USD600 juta,” katanya di Jakarta kemarin. Menurut dia,Bruneitak jadi membeli kapal fregat dari Inggris tersebut karena merasa tak cocok secara nonteknis. “Mereka memesan kapal besar, tapi ternyata angkatan lautnya sedikit. Begitu (kapal) mau jadi, mereka bingung,” terangnya.

Di satu sisi,Indonesiatengah membutuhkan penguatan kapal perang untuk TNI Angkatan Laut. Hal ini dilihat sebagai peluang untuk mendapat tambahan kapal dengan harga murah karena Bruneisendiri tak jadi memakainya. Apalagi, kapal tersebut telah dipersenjatai lengkap. Tak hanya itu, kapal itu juga dibuat dengan spesifikasi yang tinggi.

“Saya sudah melihatnya, tidak ada kendala teknis. Alat-alatnya justru nomor satu semua karena yang memesan negara kaya,”lanjutnya. Soeparno menyebut, jika Indonesia memesan sendiri kapal jenis yang sama dengan spesifikasi serupa, tidak akan cukup anggarannya. “Kalau pesan sendiri, mana mungkin kita mendapatkan sebanyak itu,”cetus dia.

Kalangan wakil rakyat di Komisi I DPR sebelumnya mempersoalkan pembelian tiga kapal tempur berjenis Multi Role Light Fregate itu. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan ada persoalan teknis yang membuat Bruneitak jadi membelinya. Hasanuddin menilai, ada ketidaksesuaian spesifikasi pesanan dari BAE,perusahaan pembuat kapal tersebut.“Bahkan, ada informasi bahwa spesifikasinya diturunkan sehingga Sultan Brunei tidak mau membayarnya,”tuturnya.

Akibat membatalkan pembelian secara sepihak, BAE kemudian memerkarakan Bruneike Arbitrase Internasional pada 2007. Bruneipun terpaksa membeli.Alhasil, kapal tak terpakai dan Brunei mencoba untuk menjualnya kembali. Dalam tahap penawaran, sejumlah negara menolak, termasuk Vietnam. Pada awalnya, Indonesiasempat menolak karena kapal ini memiliki kendala teknis yakni pada stabilitas kapal.

Pada saat dipakai pada kecepatan tinggi, kapal menjadi miring. Adainformasi juga yang menyatakan bahwa meriamnya tidak bisa tepat sasaran. Karena alasan inilah kemudian pembelian itu dipertanyakan. Protes juga dilayangkan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Salim Mengga.Menurutnya,mubazir jika TNI AL justru membeli kapal dengan spesifikasi yang diragukan ketangguhannya.



View the Original article

Proses Pembelian 6 Hercules dari Australia Belum Dimulai

on

05 September 2012

Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR (photo : Aus DoD)

Jurnas.com | WAKIL Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsuddin, mengatakan, rencana pembelian enam Hercules dari Australia harus melewati proses, baik proses administrasi, proses politik maupun proses pembelian. “Ketiga-tiganya itu belum implementasi,” kata Sjafrie Sjamsuddin di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (5/9).

Untuk mengimplementasikan rencana pembelian itu, menurut Sjafrie, Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR. Kemhan juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan soal alokasi anggarannya. “Setelah itu baru semuanya bisa jalan ke proses pembelian,” katanya.

Proses pembelian yang disepakati, kata Sjafrie, adalah Army Military Self Office (AMSO), satu bentuk baru Departemen Pertahanan Australia, sama dengan proses Foreign Miliatry Sales (FMS) di Amerika Serikat. “Jadi itu bentuk linearnya adalah proses government to Government,” katanya.

Menurutnya, seandainya proses administrasi, proses politik dan proses anggaran bisa dilakukan maka pembeliannya melalui AMSO.

Sjafrie juga menjamin, proses pembelian alutsista berjalan secara transparan dan akuntabel. Karena proses pengadaan harus terlebih dahulu mendapatkan supervisi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan dikonsultasikan dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Biasanya pembelian selalu berpikir prevention. Artinya, prosesnya bisa dilakukan atau tidak. Jika tidak, apa yang mesti diperhatikan,” katanya.

Sjafrie mencontohkan, pembelian Main Battle Tank seperti Tank Leopard dari Jerman, semuanya masuk di boks akuntabilitas terlebih dahulu, baru dilakukan pembelian. “Jadi kalau ada pengamat yang mengkritik, itu bagian dari upaya bagaimana meningkatkan ketelitian dalam proses pembelian,” katanya.



View the Original article

Inilah 21 Program Pengadaan Alutsista TNI

on

06 September 2012

MLER untuk Marinir TNI AL termasuk dalam program pengadaan alutsista yang dibahas (photo : Militaryphotos)

Senayan - Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, Kemhan telah menyusun 21 kegiatan prioritas pengadaan alutsista bagi TNI. Enam program di antaranya secara pendanaan telah disetujui oleh Komisi I DPR atau tanda bintangnya telah dicabut.

Menhan dalam raker dengan Komisi I, Rabu (5/9) menjelaskan enam program tersebut :
1.    Pengadaan helikopter angkut (TNI AD),
2.    Pengadaan Tank Amfibi BMP-3F (TNI AL),
3.    Pengadaan enam pesawat Sukhoi 30 MK2 (TNI AU),
4.    Pengadaan pesawat T-50 pengganti MK-53 (TNI AU),
5.    Pengadaan pesawat pengganti F-27 beserta dukungannya yaitu pesawat CN-295 (TNI   AU),
6.    Pengadaan tiga kapal selam diesel elektrik (TNI AL).

Lebih lanjut Menhan mengatakan, 16 prioritas dalam pengadaan alutsista yang belum mendapat persetujuan Komisi I DPR RI, masih ada dua kegiatan, dua kegiatan masih berada di Kemenkeu, dan 12 kegiatan lainnya masih dalam proses penyelesaian administrasi.

Dua kegiatan yang masih di Komisi I DPR yaitu :
7.    Pengadaan heli serbu beserta persenjataannya dan amunisinya (TNI AD),
8.    Pengadaan enam Helikopter Full Combat SAR Mission EC 725 (TNI AU).

Sementara dua kegiatan yang masih di Kemenkeu adalah :
9.    Pengadaan Rudal Arhanud (TNI AD),
10.  Pengadaan ME-Armed 155mm (TNI AD).

Sementara itu, kata Menhan, dari 12 kegiatan yang masih proses penyelesaian administrasi yaitu :
11. Pengadaan Rantis 2,5 ton 4X4 kendaraan angkut (Mabes TNI),
12. Pengadaan heli serang beserta persenjataan dan amunisinya (TNI AD),
13. Pengadaan ranpur MBT (TNI AD),
14. Pengadaan rudal MLRS TNI AD),
15. MLM KRI kelas korvet tahap I (TNI AL),
16. Pengadaan kapal bantu hidro oseanografi (TNI AL),
17. Pengadaan kapal latih pengganti Dewa Ruci (TNI AL),
18. Pengadaan CN 235 MPA (TNI AL),
19. Pengadaan Heli AKA-S antikapal selam dan suku cadangnya (TNI AL),
20. Pengadaan panser Amfibi BTR 80-A (TNI AL),
21. Pengadaan Multiple Launch Rocket System/MLRS (TNI AL),

Sementara itu Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq menambahkan, per 31 Agustus 2012, Komisi I telah menyetujui alokasi anggaran untuk pengadaan kapal selam elektrik tiga unit, yang pengadaannya dari Korsel dan pengadaan enam unit Sukhoi. "Sementara untuk pengadaan MBT Leopard dari Jerman, juga mendukungnya dan dalam proses administrasi soal persetujuannya," tegas Mahfudz.



View the Original article

Timor Leste Pesan Panser dari Pindad

on Sunday, September 2, 2012

02 September 2012

Pindad pernah memamerkan rancangan panser 4x4 untuk Kepolisian Timor Leste (photo : elang-guntur)

TEMPO.CO, Jakarta - Timor Leste akan memesan panser atau tank dari PT Pindad Persero pada tahun ini. "Saat ini masih proses negosiasi, tinggal penyelesaiannya," kata direktur utama Pindad, Adik Avianto, Sabtu 1 September 2012.

Ia akan berangkat ke Timor Leste pada 12 September 2012 mendatang bersama tim perusahaan untuk menandatangani surat perjanjian dengan delegasi Timor Lester. Menurut Adik, Kementerian Pertahanan dan Kementerian Keuangan telah setuju dengan rencana ekspor panser.

Setelah penandatanganan, proses selanjutnya adalah membicarakan perjanjian pembayaran. Nantinya negara tersebut membayar secara kredit ke Bank Mandiri. Mengenai nilai pembelian, Adik belum bisa menjelaskan. Sebabnya, "Timor Leste belum memastikan jenis panser yang dipesan. Jadi tergantung kebutuhan," Adik berujar. Begitu juga dengan jumlah yang akan dipesan.

Harga panser dengan jenis 4x4 atau yang biasa digunakan pada medan ringan, seperti perkotaan, per unitnya senilai Rp 4 miliar. Namun harga akan naik jika ditambahkan dengan asesoris seperti senjata atau kamera pengintai. Sedangkan panser bagi medan berat, atau jenis 6x6 harga per unitnya Rp 8 miliar.



View the Original article

Kapal Siluman KRI Klewang Ditempatkan di Armada Timur

on

01 September 2012

Kapal trimaran 63m ini merupakan hasil kolaborasi riset, desain, dan pengembangan selama 24 bulan antara North Sea Boats Pte Ltd/PT Lundin Industry Invest dan arsitek kapal LOMOCean Design Ltd dari Selandia Baru (all photos : Kaskus Militer)

TEMPO.CO, Banyuwangi - Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Pertama Sayyid Anwar, mengatakan Kapal Cepat Rudal Trimaran KRI Klewang 625 akan ditempatkan di Armada Timur, Surabaya.

Meskipun begitu, kata dia, kapal bisa dioperasikan di seluruh kawasan di Indonesia sesuai kebutuhan. "Operasinya bisa di kawasan barat atau timur sesuai dengan kebutuhan," kata dia usai meluncurkan KCR Trimaran di galangan kapal PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jumat, 31 Agustus 2012.

Menurut Sayyid Anwar, KCR Trimaran ini berfungsi sebagai kapal perang. Kapal ini dilengkapi empat peluru kendali dengan daya jelajah hingga radius 120 kilometer. KRI Klewang juga diklaim memiliki teknologi khusus sehingga tidak dapat dideteksi radar musuh.


Kapal supercanggih yang dimiliki TNI AL ini merupakan pertama di Indonesia yang dibuat oleh perusahaan dalam negeri. Bahkan, PT Lundin menyatakan kapal ini merupakan yang pertama di kawasan Asia.

KRI Klewang memiliki panjang 63 meter, bobot 53,1 GT, dengan mesin utama 4x marine engines MAN nominal 1.800 PK sehingga mampu melesat dengan kecepatan maksimal 35 knot. TNI AL memesan kapal tersebut seharga Rp 114 miliar yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejak tahun 2009 hingga 2011.

Pemilik PT Lundin Industry Invest, John Ivar Alan Lundin, mengatakan perencanaan hingga realisasi kapal ini membutuhkan waktu lima tahun. PT Lundin membutuhkan waktu 2,5 tahun untuk melakukan riset ke berbagai negara dan 2,5 tahun sisanya untuk pembuatan. "Saya sangat senang akhirnya selesai. Ini merupakan mimpi lama saya," kata dia.


Bahan utama kapal ini menggunakan serat karbon yang sebagian besar diimpor dari Cina. Teknologi kapal yang tidak terdeteksi tersebut sudah lebih dulu diaplikasikan di Selandia Baru dan Amerika.

PT Lundin didirikan di Banyuwangi tahun 2001 silam oleh Jhon Ivar. Pria berusia 43 tahun tersebut berasal dari Swedia dan merupakan keturunan keluarga pembuat kapal perang di Swedia bernama Sweed Sweap.

 Dia mendirikan galangan kapal di Banyuwangi setelah menikah dengan Lisa, perempuan asal Banyuwangi pada 1997 silam. Selain melayani kapal perang dalam negeri, PT Lundin juga banyak mengekspor kapal militer ke Malaysia.



View the Original article

Empat Pesawat Super Tucano Tiba di Indonesia

on

01 September 2012

Empat Super Tucano batch pertama telah tiba di Indonesia, batch kedua yang terdiri dari empat pesawat akan datang ke Indonesia pada Januari 2013 (all photos : viva)

Jakarta (ANTARA News) - Empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan pabrikan Embraer Brasil tiba di Panggkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu siang, yang akan memperkuat Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.

Empat pesawat yang memiliki kemampuan serang antigerilya itu diawaki oleh delapan orang pilot, yakni Capt Carlos Alberto (team leader)/Capt Almir Suman, Capt Carlos Moreira/Capt Marco Antonio, Capt Airon/Capt Eduardo Torres, Capt Willian Souza/Capt Carlos Eduardo.

Mereka disambut oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkat Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Dede Rusamsi.


Keempat pesawat Super Tucano yang diberi Tail Number TT-3101, 3102, 3103, 3104 dengan desain moncong berwarna merah yang diterbangkan dari Lanud Suwondo, Medan yang sebelumnya diberangkatkan dari pabrik Embraer Brasil dengan "Farry Flight" melalui rute Brasil, Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand baru menuju Medan. Kemudian dari Medan menuju Lanud Halim Perdanakusuma.

"Jam terbang dari Brasil hingga ke Medan sekitar 54 jam, 35 menit selama kurun 14 hari penerbangan. Sebelum diterbangkan ke Indonesia keempat pesawat telah mendapat pemeriksaan meliputi klarifikasi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat dan uji terbang pesawat yang melibatkan personel ahli dan penerbang uji TNI AU," kata Wakasau.

Kemudian, keempat pesawat buatan Brasil itu akan meninggalkan Halim pada Minggu (2/9) menuju home base-nya di Lanud Abdulrachman Saleh (Malang).

Keberadaan Super Tucano tersebut untuk menggantikan pesawat latih tempur sebelumnya yakni OV 10 Bronco yang kini dikandangkan (grounded) oleh Markas Besar (Mabes) TNI AU.

EMB-314 Super Tucano merupakan pesawat latih kemampuan Counter Insurgency (COIN) atau pesawat serang antigerilya, pendukung tugas udara jarak dekat, yang memiliki mesin tunggal Turboprop Pratt dan Whitney PT6A-68C berdaya 1600 tenaga kuda.

Pesawat itu memiliki berat maksimum 5,4 ton dan mampu membawa senjata seberat 1.550 kg dengan menggunakan bahan bakar avtur.



View the Original article