KRI Pati Unus–384 Naik Dock di Belawan

on Monday, July 15, 2013

11 Juli 2013


KRI Pati Unus - 384 (photo : far-maroc, TNI AL)

LANTAMAL I (10/7),- Kapal Perang milik TNI Angkatan Laut berjenis Korvet kelas Parchim yang namanya diambil dari nama Raja ke-2 Demak yaitu Pangeran Patiunus ini untuk pertama kali sejak dibeli dari Jerman Timur pada tahun 1993 naik Docking di Belawan guna pemeliharaan dan perawatan bawah air sekaligus pengecatan Kapal. Sebelumnya, Kapal Perang yang didesain untuk perang anti Kapal Selam di perairan Dangkal/Pantai ini pernah juga naik Docking untuk pemeliharaan perawatan pada tahun 2011 di PT. Dock dan Perkapalan Kodja Bahari Jakarta Utara.



Pada kesempatan ini, Komandan Lantamal I Belawan Laksamana Pertama TNI Didik Wahyudi, SE, yang di dampingi oleh Aslog Danlantamal I serta Palaksa KRI Pati Unus-384 Mayor Laut (P) Ropitno yang mewakili Komandan Pati Unus Letkol Laut (P) Tubagus Budi Wahyudi turut mendampingi Danlantamal I dalam meninjau pemeliharaan kapal di Docking Penggalangan Kapal, dalam hal ini pemeliharaan dan perawatannya dipercayakan oleh PT. Bina Adidaya, Selasa (09/07).

Pemeliharaan Kapal Perang yang baru pertama kali naik Docking di Belawan ini, direncanakan selesai dalam waktu 10 hari dan pekerjaan pemeliharaan kapal  meliputi pengangkatan serta pembersihan tritip yang menempel di dasar bodi kapal sekaligus pengecetan kapal.

(TNI AL)

View the Original article

Uji Coba CN235-220 Patmar TNI AL

on

13 Juli 2013


CN-235 Patmar TNI AL (photo : Angkasa)

PTDI melakukan serangkaian uji coba untuk pesawat barunya yang dipesan TNI AL pada Kamis ( 11/7/ 2013)  lalu. Uji terbang yang dilakukan meliputi uji bank to bank, steady heading sideslip, dan uji roll out selama dua jam penuh. Hasilnya, menurut Capt. Ester sebagai Chief Test Pilot, performa pesawat turboprop ini  sudah mendekati sempurna. "Apa yang kita ujikan tadi hasilnya sesuai dengan rencana para perancang," jelasnya.

Selain menguji performa fisiknya, PT DI juga menguji performa winglet CN235-220. Seperti kita ketahui, CN235-220 versi terbaru ini merupakan inovasi anak bangsa, dimana PT DI menambahkan winglet di bagian sayapnya. Winglet tersebut berguna untuk mengurangi daya hambat yang dihasilkan oleh Flir dan radar tambahan di bagian bawah pesawat.

"Setelah dites ternyata winglet ini membantu performa pesawat, hingga menyamai versi basic-nya sebelum ditambah radar dan flir," ujarnya kepada Angkasa.

Setelah lolos uji fisik ini, PT DI akan melanjutkan dengan uji stall character. Tujuannya, untuk melihat bagaimana respon CN235-220 jika terjadi stall. PT DI menargetkan rangkaian uji terbang ini akan rampung akhir Juli mendatang. Setelah semua selesai, pesawat tersebut akan diserahterimakan kepada Skuadron 800 Penerbal TNI AL. 

(Angkasa)

View the Original article

Pemprov Kaltim Hibahkan Helikopter Bell-412 kepada Kemhan RI

on

13 Juli 2013


Serah terima Bell-412 EP ini merupakan produk ke-14 yang diserahkan PTDI kepada Kemhan RI. Helikopter serbaguna ini termasuk kelas menengah yang bisa diawaki dua orang pilot serta kopilot dan mampu mengangkut 13 penumpang (photo : Detik)

Jakarta - Pemprov Kalimantan Timur mengucurkan dana ratusan miliar rupiah untuk hibah berupa satu unit helikopter Bell-412 EP kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI. Helikopter militer nan handal ini berkapasitas 13 penumpang serta mampu mengangkut beban sekitar 3 ton.

"Dananya 120 miliar rupaih yang berasa dari APBD 2011. Statusnya hibah," jelas Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak.

Awang menyampaikannya sewaktu acara serah terima Bell-412 EP dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kepada Kemhan RI. Kegiatan berlangsung di Hanggar Rotary Wing, PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (13/7/2013).

"Bukan untuk mewah-mewah, ini untuk kepentingan rakyat Kaltim. Kehadiran helikopter andal di kelasnya ini sangat perlu untuk mengawasi dan menjaga wilayah perbatasan," kata Awang.

Bell-412 EP produksi PTDI ini merupakan helikopter serbagna yang ditenagai sepasang engine, pratt & whitnet PT6T-3D, dengan empat bilah rotor utama dan dua bilah rotor ekor. Selain mampu melaksanakan misi militer, Bell-412 EP ini mampu melaksanakan penerbangan sipil, operasi SAR, pemadam kebakaran, dan misi sosila yakni membantu masyarakat terutama jika terjadi bencana alam.

"Heli ini ekstra performance. Mempunyai kelebihan yang tak dimiliki heli lainnya. Bell-412 dilengkapi infrared mendeteksi panas, ada radar, kamera, serta bisa mengangkut alat berat yang sesuai limitasi alat mengangkut alat berat sesuai limitasi heli," ungkap Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Penyerahan satu unit helikopter buatan PTDI itu selanjutnya dioperasikan TNI AD. 

Penandatanganan naskah serah terima helikopter Bell-412 EP dilakukan Direktur PTDI Budi Santoso, Kabaranahan Kemhan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, dan Aslog Panglima TNI Mayjen Joko Sriwidodo.

(Detik)

View the Original article

Ultra Awarded a £32m Contract for the Mid-Life Modernisation of Indonesian Navy Warship

on Friday, July 12, 2013

10 Juli 2013


KRI Fatahillah 361 (photo : Erwin Adji)

Ultra Electronics announces that its Command & Control Systems business, based in High Wycombe, has been awarded a contract worth £32m by the Republic of Indonesia’s Ministry of Defence for the mid-life modernisation of the first of the Fatahillah Class corvettes.

The contract includes the development, installation and integration of a new combat management system. The marine engineering aspects of the work package will be undertaken by Ultra’s partner, Nobiskrug with its local subcontractor in Indonesia.

The programme start remains subject to funding provision and the contract will then be delivered over a 28 month period. Discussions regarding the mid-life modernisation of the second ship in the class are expected to start later in the year.

Ultra's integrated approach to naval C2 and combat management systems offers numerous benefits to maritime forces world-wide in terms of operational capability, flexibility and throughlife costs.

Using common modules, Ultra can scale customer specific system solutions for a  wide range of applications: from a simple situational awareness and self-defence system for a coastal patrol craft, to a fully integrated solution for a major surface combatant.

Rakesh Sharma, Chief Executive of Ultra, commented:

“Following five years positioning of Ultra's offering to the Middle and Far Eastern markets, I am delighted that Ultra’s specialist naval capabilities have been recognised with the award of  this prestigious contract by the Republic of Indonesia. Ultra has again demonstrated its ability  to partner with other world class businesses to offer differentiated solutions to its customers. I  look forward to the further development of Ultra’s relationship with this new customer and we  will continue to position our businesses for further successes in the future.

(Ultra Electronics)

View the Original article

Roket Chaff KRI Malahayati-362 “Halau” Rudal Pesawat Tempur Musuh

on Tuesday, July 9, 2013

09 Juli 2013


Chaff yang dilepaskan dari KRI Malahayati 362 (photo : Koarmatim)

Pelayaran menuju daerah operasi di perairan Karang Unarang ternyata harus dilalui KRI Malahayati-362 dengan cuaca yang tidak bersahabat. Namun berkat kegigihan, pengalaman dan naluri tempur yang selalu terasah, cuaca ekstrem Laut Jawa dan Laut Sulawesi dapat dilalui dengan mudah. Sesampainya di daerah operasi Karang Unarang, prajurit KRI Malahayati-362 melaksanakan latihan penembakan rocket chaff, Sabtu (6/7). Latihan ini untuk melatih profesionalisme prajurit serta kesiapan material untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman di medan tugas.

Disimulasikan KRI Malahayati-362 melaksanakan peran tempur bahaya udara setelah radar udara KRI Malahayati-362 mendeteksi adanya kontak udara yang mencurigakan. Teridentifikasi berdasarkan squawking IFF bahwa kontak udara merupakan pesawat tempur musuh yang menyelinap, berdasarkan aturan pelibatan Operasi Tameng Hiu-13 KRI Malahayati diwajibkan memperingatkan musuh untuk meninggalkan wilayah kedaulatan NKRI.

Pesawat tempur musuh bermanuver ekstrem lalu menembakan peluru kendali (Rudal) ke arah KRI Malahayati-362. Komandan memerintahkan PWO (Principle Warfare Officer) memimpin timnya untuk menangkis serangan tersebut. Diambil langkah taktis dengan meluncurkan chaff untuk mengalihkan sasaran peluru kendali musuh. Chaff meledak di udara dan membentuk awan pejal berelektromagnet yang mengalihkan sasaran peluru kendali dari kapal ke awan pejal yang terbentuk. Hal tersebut dimonitor secara visual serta melalui tampilan radar yang menujukkan echo pada kumpulan awan pejal.

Komandan KRI Malahayati-362, Letkol Laut (P) Moch. Irchamni dalam pernyataannya menyampaikan bahwa latihan ini merupakan rangkaian kegiatan yang sudah terencana dan akan berkelanjutan. "Setelah diserang, kita wajib menyerang. Oleh karena itu, setelah bekal ulang di pelabuhan Balikpapan selanjutnya kami akan menyiapkan latihan penyerangan sebelum tiba di daerah operasi. “Ci Vis Pacem Parabellum, Jika ingin damai, Harus siap untuk berperang", ungkap Komandan KRI Malahayati-362.

(Armada Timur)

View the Original article

Latihan Bersama Joint Minex 16/13 Ditutup

on

09 Juli 2013

KRI Pulau Rengat-711 (photo : Satran)

Jakarta -- Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Pertama TNI M. Atok Urrahman menutup latihan bersama antara TNI AL dengan AL Singapura (Republic of Singapore Navy) dengan nama Joint Minex 16/13.


RSS Punggol (photo : BQ-T)

Penutupan  dihadiri oleh Danguskamlakoarmabar Laksamana Pertama TNI Arusukmono Indra Sucahyo dan  delegasi dari TNI AL dan  Angkatan Laut Singapura, bertempat di Batam, Senin (8/7).


KRI Pulau Rengat dan KRI Pulau Rupat (photo : Kaskus Militer)

Latihan Joint Minex  tahun ini yang dimulai sejak tanggal 6 Juli 2013 ini melibatkan 2 KRI dari TNI AL yaitu KRI Pulau Rengat – 711 dan KRI Pulau Rupat - 712 sedangkan dari pihak AL Singapura melibatkan 2 kapal perangnya yaitu RSS Bedok (M-105) dan RSS Punggol (M-108).


Bedok classs MCM (photo : huaiwei)

Latihan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kerjasama dan hubungan bilateral antara TNI AL dengan AL Singapura (Republic Of Singapore Navy) serta  meningkatkan kemampuan profesionalitas prajurit Angkatan Laut kedua Negara. 

(Armada Barat)

View the Original article

Latihan Elang Thainesia 2013 Ditutup

on Monday, July 8, 2013

08 Juli 2013


Pesawat Hawk 209 TNI AU dan Alpha Jet dari RTAF (photo : RTAF)

Kepala Staf TNI Angkatan Udara dan Kepala Staf RTAF Tutup Latihan Bersama Elang Thainesia XVI

Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia dan Kepala Staf Royal Thailand Air Force (RTAF), Air Chief Marshal Prajin Juntong menutup secara resmi latihan bersama antara TNI AU dan RTAF, Elang Thainesia XVI melalui prosesi Upacara Penutupan yang ditandai dengan pelepasan tanda peserta latihan oleh kedua Kepala Staf Angkatan Udara di Apron Baseops Lanud Roesmin Nurjadin, Jumat (5/7).

Berdiri diatas Podium selaku Inspektur Upacara, kedua Kepala Staf Angkatan Udara secara bersamaan, melaksanakan pemeriksaan pasukan upacara yang dilanjutkan dengan melepaskan tanda peserta latihan secara simbolis kepada perwakilan kedua penerbang Angkatan Udara. Dalam sambutannya yang dibacakan secara bergantian, kedua Kepala Staf Angkatan Udara menyampaikan rasa bangga dan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian latihan Elang Thainesia XVI di Lanud Roesmin Nurjadin. Lebih lanjut kedua Kepala Staf menyampaikan bahwa keberhasilan yang diraih selama pelaksanaan latihan Elang Thainesia akan memberikan pengalaman yang berharga dalam meningkatkan kemampuan para penerbang. Selain itu dengan latihan bersama tersebut lebih meningkatkan hubungan baik antar dua negara bersahabat tersebut.

Upacara penutupan yang berlangsung khidmat dan meriah tersebut turut dimeriahkan dengan pelaksanaan Terjung Payung oleh sembilan orang peterjun yang terdiri dari lima peterjun prajurit Paskhasau dan empat peterjun prajurit RTAF. Dengan membawa bendera Merah Putih dan Swabhuana Paksa kesembilan peterjun mendarat mulus di daerah Dropping Zone persis di samping lapangan upacara dan disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh hadirin.

Adapun yang bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Danskadron Udara 12, Letkol Pnb M. Yani Amrullah. Acara penutupan diakhiri dengan Foto Bersama dengan latar dua pesawat Hawk 200 TNI AU dan dua pesawat Alfa Jet RTAF dengan baleho besar yang terpampang sebagai Background lapangan upacara.

(TNI AU)

Baca Juga :

Latma Elang Thainesia XVI Laksanakan Berbagai Latihan
01 Juli 2013


Pesawat C-130 Hercules RTAF (photo : RSNAFB)

Setelah dibuka secara resmi oleh Danlanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb Andyawan. M.P, S.IP pada tanggal 25 Juni yang lalu. Latihan bersama antara TNI AU dengan Royal Thailand Air Force (RTAF) dengan sandi Elang Thainesia XVI terus melaksanakan berbagai latihan Air to Air dan Air to Ground secara bersama. Diawali dengan latihan Familiarisasi, sejumlah penerbang tempur pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 12 mengenalkan kondisi medan latihan kepada segenap petempur negara Gajah Putih seperti, cara masuk Aerodrome, teknik menuju Training Area serta cek point yang sudah ditetapkan dalam melaksanakan berbagai latihan yang akan dilaksankan.

Setelah segenap petempur RTAF memahami kondisi medan latihan, Latma Elang Thainesia XVI mulai melaksanakan latihan Air to Air berupa latihan Dissimilar Basic Fighter Maneuver (DBFM) yakni latihan pertempuran di udara antar dua pesawat tempur dengan jenis yang berbeda, Hawk 100/200 TNI AU dengan Alfa Jet RTAF. Hari ini, Senin (1/7) para penerbang Hawk 100/200 dan Alfa Jet akan melaksanakan penembakan Air to Ground atau Weapon Delivery di lokasi latihan penembakan Siabu, kabupaten Kampar, Riau. Pada sesi latihan ini seluruh penerbang akan melaksanakan Bombing menggunakan Bom Latih atau BL-25, Rocketing menggunakan Folding Fin Aerial Rocket atau FFAR 275 dan Straffing yang menggunakan Aden Gun kaliber 30 mm.

Direncanakan Latma Elang Thainesia akan berlangsung hingga tanggal 4 Juli 2013 mendatang dan akan ditutup pada tanggal 5 Juli 2013 oleh Kepala Staf Angkatan Udara kedua negara di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

(TNI AU)

View the Original article

TNI AL Bangun Pusat Pelatihan Modern untuk Kapal Selam

on Saturday, July 6, 2013

06 Juli 2013


Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi (photo : Armada Timur)

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI DR. Marsetio, M.M. meresmikan dimulainya pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) hari ini, Jum’at (5/7). Acara peresmian ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kasal didampingi Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M. Hum di area pembangunan gedung STC kompleks Komando dan Latihan Koarmatim, Ujung, Surabaya serta dihadiri pejabat teras TNI AL dan sesepuh brevet hiu kencana.

Latar belakang pembangunan gedung STC adalah sebagai fasilitas simulator untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme ABK kapal selam dihadapkan pada pembangunan kekuatan TNI AL sampai dengan tahun 2024 guna mewujudkan TNI AL yang handal, kuat dan disegani. Selain itu STC ini dapat digunakan untuk pratikum yang relevan bagi ABK kapal selam maupun calon ABK kapal selam tanpa menggunakan jam operasional kapal selam, sehingga kondisi teknis kapal dapat dilaksanakan secara maksimal dan efisien.

Negara-negara di kawasan regional seperti Malaysia, India dan Australia telah membangun sistem pelatihan awak kapal selam seiring dengan tahap awal pengadaan kapal selamnya, oleh karena itu pembangunan STC ini sangat tepat mengingat Indonesia dalam waktu dekat akan melaksanakan pengadaan tiga kapal selam baru.

Saat jumpa pers usai acara peletakan batu pertama, Kasal menyatakan saat ini Indonesia telah melaksanakan kontrak pembuatan tiga kapal selam dengan Korea Selatan dan direncanakan pada akhir tahun 2016 atau awal 2017 ketiga kapal selam tersebut sudah datang di Indonesia. Untuk pembuatan dua kapal selam dilaksanakan di Korea Selatan, sedangkan untuk pembuatan kapal selam ketiga, Indonesia telah merekrut para teknisi dari PT PAL dalam rangka Transfer of Technology (TOT) di Korea Selatan sehingga kapal ketiga dapat dibangun di PT PAL seperti halnya pembangunan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) tahun lalu. Sehingga pada tahun 2017 Indonesia memiliki lima kapal selam termasuk dua kapal selam yang sudah ada yaitu KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402.

Menurut Kasal, dengan pembangunan STC ini TNI AL akan mempunyai personel awak kapal selam yang benar-benar profesional, sehingga apabila ada kapal selam yang sedang beroperasi ataupun sedang perbaikan di pangkalan, para personelnya masih dapat berlatih di STC. Enam fasilitas simulator akan melengkapi STC ini yang pembangunannya dilakukan secara bertahap. “Dengan demikian apabila TNI Angkatan Laut sewaktu-waktu menghadirkan kekuatan kapal selamnya dimanapun di wilayah NKRI, para personelnya sudah benar-benar siap dan terlatih”, tegas Kasal.

Terkait dengan kekuatan kapal selam yang dimiliki TNI AL, Kasal mengatakan bahwa sesuai dengan pembangunan Minimum Essential Force (MEF) TNI AL, untuk mengamankan wilayah NKRI diperlukan minimal 6 kapal selam dan diharapkan hal ini sudah tercapai pada tahun 2024. Menurut Kasal, pembangungan  MEF ini akan terus di up date setiap tahun sesuai dengan anggaran yang dialokasikan ke TNI.

Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi sehingga proses pelatihan menjadi lebih efektif.

Keenam fasilitas tersebut  yaitu : pertama, Submarine control simulator (SCS) yaitu simulator pelatihan awak kapal selam yang bertugas di ruang kontrol teknis dan digunakan untuk melatih personel dalam olah gerak teknis dan taktis kapal selam.

Kedua, Submarine command and team trainer (SCTT) yaitu sebuah platform yang digunakan sebagai sarana pelatihan tim Pusat Informasi Tempur (PIT) kapal selam dan merupakan sebuah mock-up situasi PIT yang sesungguhnya.

Ketiga, Sonar laboratory (SL) yaitu ruang laboratorium yang memiliki fasilitas simulator sonar yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan operator dalam melaksanakn analisa gelombang akustik.

Keempat, Machinery and propulsion control simulator (MPCS) yaitu fasilitas latihan pengoperasian peralatan utama bagian permesinan dan sistem pendorong bagi awak kapal selam.

Kelima, Fire and damage control simulator (FDCS) adalah sarana latihan penanggulangan kedaruratan pada kapal selam yaitu bahaya kebakaran dan kebocoran.

Terakhir yaitu Submarine escape training tank (SETT) yaitu fasilitas yang digunakan sebagai sarana latihan bagi awak kapal selam untuk melaksanakan penyelamatan diri dalam kondisi darurat.

Usai acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) ini, Kasal juga akan meresmikan Balai Pertemuan Warga Flat Daerah Basis TNI AL Ujung di kompleks perumahan Flat Koarmatim, Ujung Surabaya. Balai warga dengan ukuran 24 m x 24 m ini mulai dibangun pada tahun 2012 oleh Dinas Fasilitas Pangkalan (Disfaslan) Lantamal V Surabaya. 

(Armada Timur)

View the Original article