on Friday, April 9, 2010

Israel's defense exports Soar to .75 Billion in 2009

Israel's defense exports Soar to .75 Billion in 2009



Despite the economical crisis, Israel's revenues from defense exports increased in 2009 to US.75 billion. According to Major General (ret.) Udi Shani, head of the Ministry of Defense Foreign Defense Assistance and Defense Export Department, this growth is attributed to the ingenuity of Israel's defense industries and the support provided by the country's defense establishment. On January 15 Shani was nominated Director General of the Ministry of Defense, replacing Brig. General (ret.) Pinchas Buchris.




Source: Defence Update

on

The BMD Challenge








While India has taken some significant steps toward the development of a homegrown ballistic missile defence (BMD) system since 1998, these nevertheless constitute only the ?crawl? phase of the R & D effort, with the ?walk? and ?run? phases yet to kick in. Several challenges are yet to be overcome, including the development of high-velocity interceptor missiles, a ground-based battlespace management system (BMS), and a three-tier network comprising BMD deployment packages for point defence, for area defence and for theatre defence. The best indications of the shape of things to come are the existing BMD systems already operational in Israel and in the US, and are explained in some detail in the above slides.?Prasun K. Sengupta


Source: Trishul Group

on Monday, April 5, 2010

Pengadaan Kapal Selam TNI AL Selesai 2014

Pengadaan Kapal Selam TNI AL Selesai 2014



15 Januari 2010

Combat system kapal selam U-214 buatan Jerman (photo : Military Today)

JAKARTA--MI: Pengadaan kapal selam untuk memperkuat jajaran TNI AL dijadwalkan selesai pada 2014. Saat ini, TNI AL kembali menyusun ulang spesifikasi teknis dan operasional dari kapal selam yang dibutuhkan.

Hal ini disampaikan KSAL Laksamana Madya Agus Suhartono seusai menghadiri peringatan Dharma Samudra di Jakarta, Jumat (15/7). "Sekarang baru kita proses awal lagi untuk pengadaannya mulai dari operation requirement, spesifikasi teknik kita tata ulang. Aplikasi kontrak tahun ini sudah bisa dilaksanakan. Pada tahun 2011, sudah bisa dibangun dan tahun 2014 sudah jadi," kata KSAL.

Ia beralasan perkembangan situasi saat ini menjadi alasan pihaknya harus meninjau kembali pengadaan kapal selam. Maka itu, ia menyatakan bahwa kemampuan kapal selam selanjutnya harus lebih baik dari kemampuan kapal selam yang ada. Kapal selam Nanggala dan Cakra memiliki kemampuan ketahanan menyelam hingga dua minggu. Karena itu kemampuan minimal kapal selam baru haruslah dua minggu.

"Kemampuan kapal selam dilihat dari ketahanan kapal selam itu menyelam lebih lama. Itu yang paling utama bagi kapal selam, minimal dua minggu. Kalau kapal selam tiap hari harus muncul yah ketahuan. Maka itu, harus bisa menyelam cukup lama," jelasnya.

Dalam cetak biru pertahanan TNI AL, KSAL menyatakan bahwa Indonesia setidaknya memiliki empat kapal selam pada 2014. Itu terdiri dari dua kapal selam yang ada ditambah dua pengadaan baru.

Meski pilihan negara produsen belum ada, ia memperkirakan hanya ada tiga negara yang menjadi pilihan. "Tetap saja kan mbahnya kapal selam kan Jerman. Korea juga memiliki kemampuan dengan lisensi Jerman, kemudian Rusia. Ya sekitar itu. Hanya kita belum tahu mana yang dipilih," tandasnya. (DM/OL-06)

(Media Indonesia)

Baca Juga :

Kaji Ulang Kapal Selam
16 Januari 2010

Jakarta, Kompas - Pengadaan kapal selam oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dikaji dari awal lagi. Alasannya, selain adanya prioritas anggaran pada kesejahteraan prajurit, juga ada beberapa perubahan dalam spesifikasi teknis yang diajukan TNI AL.

Demikian disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya Agus Suhartono dan Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Eris Herryanto di Jakarta, Jumat (15/1), seusai peluncuran buku Mission Accomplished-Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa karya Atmadji Sumarkidjo.

?Kapal selam tetap diadakan, tahun 2014 diharapkan sudah selesai,? kata Agus Suhartono.

Ia menyampaikan, kapal selam adalah senjata strategis yang memberikan dampak politis dan penangkalan. Sebagaimana rencana sebelumnya, pada 2014 diharapkan akan ada dua kapal selam baru. Dengan demikian, pada 2010 ini kontrak direncanakan untuk ditandatangani dan pembangunan yang memakan waktu tiga tahun bisa dimulai tahun 2011.

?Kita proses lagi pengadaannya dari awal mulai dari kebutuhan operasi dan spesifikasinya kita tata ulang,? kata Agus.

Menyelam Lebih Lama

Menurut Agus, salah satu spesifikasi yang diinginkan adalah kemampuan menyelam yang lebih lama, yaitu minimal 2 minggu. Kemampuan ini belum dimiliki oleh kapal selam yang kita miliki saat ini.

Beberapa pilihan yang sempat dibuat beberapa waktu lalu juga dianggap kurang memikirkan hal itu. Padahal, menurut Agus, ini merupakan salah satu hal yang paling penting. ?Itu kemampuan yang paling utama. Kalau kapal selam muncul setiap hari, ya ketahuan, dong,? katanya.

Oleh karena perkembangan tersebut, TNI AL ingin meluaskan pilihan dari yang selama ini pernah disebut-sebut.

Berdasarkan catatan Kompas, Indonesia memiliki KRI Cakra dan KRI Nanggala yang merupakan hasil produksi Jerman kelas U 209/1300 pada 1981.

Beberapa waktu lalu, sempat disebut-sebut kapal selam Jerman kelas U 214/U-212/U209 yang dibuat Korea Selatan dan Kelas Kilo buatan Rusia sebagai calon kuat yang akan dibeli Pemerintah Indonesia.

?Kita meluaskan pilihan dari itu. Akan tetapi, mbahnya kapal selam kan sekitar Jerman dan Rusia atau Korea yang punya kemampuan dengan lisensi Jerman saja,? kata Agus.

Eris Herryanto mengakui adanya proses pengkajian dari awal ini. Menurut dia, saat pembukaan seminar revitalisasi industri pertahanan Desember 2009, Presiden Yudhoyono menekankan anggaran pada kesejahteraan prajurit dulu.

?Itu salah satu faktor yang membuat adanya pengkajian kembali,? kata Eris.

Penyebab lain adalah berbagai perubahan kebijakan yang dilakukan TNI AL. Adanya perkembangan teknologi membuat TNI AL beberapa kali melakukan perubahan kebijakan.

Hal lain, juga ada kebijakan baru dari pemerintah untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang tidak tersedia di dalam negeri dan harus dibeli dari luar harus mengikutsertakan industri dalam negeri. Hal ini ditujukan untuk proses transfer teknologi.

Eris membantah adanya beberapa pilihan sebelumnya. Menurut dia, pilihan-pilihan masih terbuka dan semuanya masih dalam proses. Dana yang dianggarkan untuk pembelian dua kapal selam ini adalah 700 juta dollar AS.

?Belum tentu tahun ini kontrak ditandatangani,? katanya. (EDN)

(Kompas)



Source: Defense Studies

on

AAFES concessions to close in Afghanistan



Most Army and Air Force Exchange Service concessions serving U.S. troops in Afghanistan will be closed within 90 days under an order issued Feb. 5 by Gen. Stanley McChrystal, the top U.S. commander in that war zone.McChrystal’s “fragmentary order,” known as a FRAGO, follows a review of morale, welfare and recreation activities in Afghanistan during which base and unit commanders completed a 60-day assessment and submitted impact statements and recommendations for closure or relocation of AAFES facilities.“MWR programs across the theater should be limited in scope and tailored for an expeditionary force,” McChrystal said in his order. “MWR should never be the distracter that changes the focus of the mission.”More than 50 AAFES concessions would close under the order, including popular fast-food outlets like Burger King, Popeyes and Taco Bell, as well as jewelry stores, souvenir stores and new car sales outlets.At least nine main exchange service stores that operate under the auspices of specific deployed U.S. units will remain open. The fate of 14 other main facilities that are not categorized as “unit stores” is unclear.“We’ve received the order and will follow accordingly. We’re there to do what the command wants us to do,” said AAFES spokesman Judd Anstey.According to McChrystal’s order, priority command support will be limited to fitness centers, MWR Internet services, the Stars and Stripes newspaper, unit-operated AAFES stores, barber and beauty shops, recreation equipment (books, movies, board games and outdoor recreation gear), USO packages (USO2Go and USO in a Box), and education services, all of which will continue.Other facilities exempt from the closure orders include Green Bean Café; AAFES-sponsored vendors run by Afghan nationals; temporary bazaars (open at least one day a week); AT&T Call Centers; AAFES Internet services, cell phone activation services; and tailor concessions that do limited alterations.The 90-day timetable outlined by McChrystal will include 30 days for the command to notify the facilities to be closed, and 60 days for the actual closure process.In addition to its nine unit-run and 14 other main exchange facilities in Afghanistan, AAFES currently operates 27 food outlets, 51 short-term concessions and 77 longer-term concession services in that country, Anstey said.

Source: Army Times

on Wednesday, March 31, 2010

PT DI Signs Contract for EC255/EC725 Cougar

PT DI Signs Contract for EC255/EC725 Cougar



27 Januari 2010

EC-725 Cougar (photo : Eurocopter)

Cooperation Between PTDI and Eurocopter

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) and Eurocopter Directors celebrated today in Bandung the beginning of Airframe assembly for EC725/EC225 Helicopters, the latest version of the ?Super Puma? family. This milestone highlights the excellent project coordination and relationship between the two teams. The first fuselage is expected to be delivered at the end of 2011.

Through this cooperation PTDI will produce Tail Boom and Fuselage for EC725/EC225 Helicopters until 2020. The production phase will start with the production of tail boom, in January 2010 and will be continued with the production of fuselage in May 2010. The first Tail Boom is expected to be delivered in October 2010, while the first Fuselage is intended to be delivered in November 2011. 6 Tail Boom units will be delivered in 2011, followed by 10 units in 2012 and then 12 units per year (one unit per month) during the remaining years until 2020.

Eurocopter chose PTDI as the main Supplier in the world for the airframe component on this family of helicopters. The work package will absorb no less than 50% of domestic share value from the manufacturing of elementary parts in more than 4000 parts and assembly of major component, in more than 500 sub-assemblies.

Eurocopter is assisting PTDI during the early stage of the cooperation (non recurring-phase) in the following areas: product planning and tooling; qualification of special processes, jigs and production facilities; certification of key production staff ; procurement planning and supply-chain management. The assistance will enhance DI capabilities to produce airframe for the most advanced transport helicopters.

PTDI signed a cooperation agreement on Airframe production with Eurocopter in the end of 2008. The cooperation is a continuation of long history of cooperation between PTDI & Eurocopter which began in 1978, when PTDI (former IPTN) began assemble SA-330 ?Puma? Helicopter, then continued in 1981 with the production of airframe for AS-332 ?Super Puma? MK I.

(Indonesian Aerospace)

See Also :

PTDI Pemasok Komponen Helikopter Produksi Eropa

27 Januari 2010

EC-225 civil version (photo : Eurocopter)

Bandung, (ANTARA) - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan menjadi pemasok utama komponen Airframe Helikopter EC-725 dan EC-225 yang merupakan produk mutakhir dari Eurocopter.

"Helikopter EC-725 dan EC-225 merupakan pengembangan dari versi NAS-332 atau Super Puma. Pengembangannya tidak boleh mengubah sistem dan daya angkut helikopter itu," kata Vice President Airframe Eurocopter, Andreas Stoeckle di sela-sela peresmian pembuatan Airframe Heli EC-725 dan EC-225 di Hanggar PTDI Kota Bandung, Rabu.

PTDI berperan sebagai pemasok komponen tailboom (ekor) dan fuseluge (kabin) untuk helikopter terbaru dari Eurocopter itu.

Tahapan produksi oleh PTDI dimulai dengan pembuatan ekor yang dimulai pada Januari 2010 dilanjutkan dengan kabin mulai Mei 2010.

Ditargetkan ekor pertama harus diserahkan ke pabrikan Eurocopter pada Oktober 2010 sedangkkan produksi kabinnya harus diserahkan PTDI pada November 2011.

Ia menyebutkan, pada tahun kedua atau Oktober 2011, PTDI harus menyerahkan 6 unit ekor atau 1 unit setiap dua bulan.

Kemudian tahun ke-3, Oktober 2012 PTDI harus menyerahkan 10 unit ekor dan penyerahan berikutnya 12 unit per tahun atau satu unit setiap bulan selama empat tahun dan seterusnya.

Airframe, kata Andreas merupakan struktur utama pesawat terbang baik pesawat bersayap tetap maupun helikopter.

Dengan pembuatan dan penyerahan 125 unit komponen airframe, ekor dan kabin untuk Helikopter EC-725/ EC-225, perusahaan dirgantara internasional asal Eropa itu menjadikan PTDI sebagai pemasok utama komponen airframe berkelas dunia.

"Paket ini bernilai lebih dari 50 persen dalam pembuatan 4.000 bagian dasar serta 500 pekerjaan sub-assembly untuk merakit komponen utama," kata Andreas Stoeckle.

Sementara itu, Dirut PTDI Budi Santoso menargetkan perusahaan dirgantara nasional itu untuk menjadi pemasok utama komponen bagi perusahaan-perusahaan dirgantara dunia.

"Kepercayaan dunia terhadap PTDI terus meningkat, dan ke depan PTDI siap jadi pemasok utama komponen pesawat-pesawat terbang di dunia," kata Budi Santoso menambahkan.

Budi menyebutkan, pesawat EC-725 dan EC-225 akan menggantikan helikopter Super Puma yang diharapkan bisa digunakan juga di Indonesia.

"Tiga Super Puma terakhir dibuat PTDI, dan ditargetkan tuntas pada 2010 ini dan bisa diserahkan ke Hankam sebagai pemesan," kata Dirut PTDI itu menambahkan.


(Antara)




Source: Defense Studies

on

Nikolay Filchenkov

Nikolay Filchenkov



The Project 1171 Tapir Large Landing Ship (Bol'shoy Desatnyy Korabl' BDK) is a beachable, general-purpose LST-type design with bow and stern ramps for unloading vehicles. Produced in at least four different types beginning in 1966, there are numerous variations in detail between units. Many have been retired, and remaining units may be in reserve, given the Russian Navy's decreased emphasis on amphibious operations.

Large Landing Ship "Nikolay Filchenkov" was built by Yantar Zavod, Kaliningrad. Laid down 30 Jan 1974, completed 29 March 1975, commissioned on 12 Dec 1975.









Source: Black Sea Fleet


Source: Gallery Kapal Perang

on Saturday, March 27, 2010

KAI A-50

KAI A-50




















Source: KAI


Source: Gallery Pesawat Tempur

on

Pakistan to Receive Shadow 200 UAVs

Pakistan to Receive Shadow 200 UAVs



The United States plans to provide Pakistan 12 units of RQ-7 Shadow unmanned aerial vehicles to support their fight on extremists. In addition to the drones themselves, the United States also will provide training and other capabilities required to coordinate the unmanned platforms with the Pakistani forces supporting operations against Taliban extremists along the NorthWest Frontier and border with Afghanistan.




Source: Defence Update